PERSISTENSI TIGA TURUNAN

PERSISTENSI TIGA TURUNAN

18 February 2015

Anda bingung dengan judul di atas? Sengaja penulis membuat bingung! Simak cerita berikut ini dan temukan sari-patinya di penutup.

Minggu kemarin penulis bersama rombongan pengusaha pembangun jaringan dari Jogja berkunjung ke Jakarta. Dalam perjalanan, rombongan 3 bis eksklusif itu berhenti istirahat di sebuah rumah makan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Waktu menunjukkan pukul 2.

Tertulis di depan rumah makan “Rumah Makan Baso”. Begitu penulis masuk, yang ada di etalase adalah sekumpulan lauk-pauk, ikan mas, gurameh, nila, lele, tahu, tempe, tumpukan lalapan berbagai macam daun, dan aneka sambal khas masakan Sunda lainnya. Menariknya, pembeli bebas untuk memilih dan mengambil. Menariknya lagi, yang dibayar hanya lauk dan nasi putihnya saja.

Tapi mana basonya? Tidak ada di daftar menu. Penulis bertanya kepada pramusaji, “Di mana basonya, Neng?” “Ada Pak, di belakang rumah makan,” jawab neng (mbak atau adik perempuan) pramusaji yang masih tampak semangat melayani pelanggan walaupun dinihari.

Penulis kaget. Sesampai di belakang rumah makan yang sangat sejuk, bersih, dengan bangunan masjid yang besar dan dominan di belakang rumah makan, ternyata ada dua buah panci sangat besar berisi bola-bola daging dan kuah baso berbau harum gurih. Aroma bawang putih menggugah selera kehangatan. Sangat berbeda cara penyajiannya. Penikmat baso bebas memilih dan mengambil serta menambahkan garam, merica, penyedap rasa, bawang merah, saos, kecap, cuka, dan semua tersedia dalam mangkok-mangkok besar. Boleh makan sampai puas layaknya pesta baso di kebun. Anehnya, pelanggan memilih duduk di kursi yang disediakan di dekat panci-panci besar seolah mencari penghangat udara dini hari pasundan.

Ada pesan apa di balik cerita ini? Ternyata, usaha “Rumah Makan Baso” ini sudah generasi ke tiga alias cucu dari pendirinya. Tentu membuat penasaran, apa saja kunci sukses keberlangsungan usaha tersebut, bukan? Menurut saya, kunci utamanya adalah persistensi dalam selalu menjaga kualitas hidangan. Panci-panci berisi bola-bola daging itu tetap panas terjaga selama rumah makan itu buka 24 Jam setiap harinya menunggu pelanggan. Bayangkan, hebat bukan? Anda pingin mencoba bisnis ini?

Susatyo Herlambang, SE, MM

Dosen @STIEBBANK