Memulai Hidup di Masa Pensiun

Memulai Hidup di Masa Pensiun

by 11 February 2014

Meskipun banyak yang merasa masih berusia muda, bukan berati yang kita pikirkan hanya soal masa sekarang saja. Seperti halnya masa kanak-kanak, usia muda kita sekarang, juga akan segera berlalu tanpa kita sadari. Jadi, kalau boleh saya ingin membawa anda berandai-andai, ingin seperti apakah masa pensiun anda nanti? Tentu saja ini bukan sekedar lamunan kosong, tetapi sebuah perenungan yang harusnya menjadi perencanaan yang harus dilakukan untuk masa pensiun anda kelak.

Pemikiran ini terlintas di benak saya ketika suatu pagi saya dalam perjalanan dari rumah menuju Bandara Adisutjipto, diantar oleh istri saya. Saat itu saya memang ada penerbangan pagi menuju Palembang, untuk menjenguk kedua orang tua saya di Baturaja. Selain itu, juga ada beberapa kunjungan bisnis dan menengok kampus AKMI milik saya. Pagi itu saya dan istri meilhat sepasang suami istri sedang jogging.

Saya berkata pada istri, sepertinya di perumahan tempat tinggal kami hanya kami berdualah sepasang suami istri yang masih muda tetapi rajin gowes, jogging, atau jalan-jalan sore. Pasangan lain yang kami temui rata-rata sudah berusia 55 tahun ke atas karena mereka sudah melewati usia produktif dan biasanya sudah pensiun sehingga memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama pasangan untuk berolah-raga.

Kalau gitu kita tergolong pasangan apa nih Pa’, masih muda tapi punya waktu luang sebanyak yang udah pensiun”. Canda istri saya saat itu.

Pertanyaan istri saya itu membuat pikiran saya flashback ke beberapa tahunn silam. Dan saya bersyukur, ketika di usia 23 tahun sudah men-setting GOAL untuk pensiun di usia 35 tahun.

Maksudnya? Pak Putu ini sudah akan berhenti bekerja di usia yang masih sangat produktif, yaitu 35 tahun?” mungkin ini adalah pertanyaan yang muncul di benak anda kemudian.

Biar saya jelaskan, pensiun yang saya pahami bukannya sama sekali tidak bekerja lagi atau tidak ada aktifitas menghasilkan uang lagi lho ya. Bagi saya, pensiun adalah boleh memilih bekerja bukan karena terpaksa harus bekerja tetapi karena memilih untuk bekerja. Jadi, dengan pensiun kita bisa memilih mengerjakan hanya yang disukai saja sehingga bekerja adalah sebagai hobi bukan tuntutan karena mengejar setoran untuk memenuhi kebutuhan yang kian menumpuk.

Ya, di usia 23 tahun itu, ketika teman-teman seusia saya berpikir “Saya mau bekerja dimana…” , saya justru berpikir “Bagaimana strategi untuk bisa pensiun di usia 35 tahun”. Mungkin sebagian besar orang memandang cara berpikir saya itu kejauhan atau ketinggian. Akan tetapi, ingin berada dimana anda kelak ditentukan oleh kemana anda ingin melangkah dari tempat anda berpijak sekarang. Maka, kuncinya adalah tujuan awal yang ditetapkan: “Apa tujuan awal yang kita tetapkan, menentukan dimana kita berada pada akhirnya”.

Sebagian besar orang di muka bumi ini takut menetapkan tujuan besar. Belum-belum sudah mikirin susahnya atau nggak mungkin nya. Dan akhirnya mereka pun hanya layak meraih hal-hal kecil. Rasa takut adalah alasan pertama seseorang sulit mencapai kebahagiaanya. Sebagian besar orang hidup dalam, dari, dan untuk ketakutan mereka tanpa berani melawannya. Hal itulah yang menyebabkan mereka kalah berperang bahkan sebelum sempat menghunuskan pedang. Misal, anda hanya ingin berpikir yang ringan saja dan menetapkan tujuan awal anda dengan sebatas ‘ingin bekerja dimana ya saya’ , maka anda sungguh-sungguh hanya akan bekerja saja di perusahaan milik orang lain, meskipun sebenarnya anda sudah merasa bosan dan ingin bebas. Jika anda menetapkan tujuan kecil, anda akan menjadi orang kecil, begitu juga sebaliknya.

Itulah yang menjadi dasar keyakinan saya saat itu. Itulah alasan mengapa saya selalu menetapkan tujuan besar yang jauh lebih menantang. Misal, di usia 23 tahun bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan, lalu pada usia 35 tahun tentu keinginannya sudah menikah dan mampu membeli rumah. Maka, yang dipikirkan tentu adalah: ingin beli rumah dimana dan menetap di kota mana.

Bagi saya saat itu, pemikiran yang demikian terlalu sederhana. Bukanya saya ingin bergaya dan sok, tetapi bermimpi dan bertujuan besar boleh saja kan? Gratis dan tidak ada larangan. Maka tujuan yang saya tetapkan adalah kota satelit seperti apakah yang akan saya buat. Tujuan awal itulah yang menggiring langkah saya sampai sekarang. Tujuan itulah yang menjadi motivator untuk kerja keras saya. Dan tujuan itu pula yang menjadi doa saya.

Jangan sampai kelak kita menjelang masa pensiun dengan ketakutan akan post power syndrome. Menjadi pribadi yang kuat dan tangguh di usia pensiun juga memberikan kontribusi berharga bagi generasi kita selanjutnya, dengan tidak membebankan kehidupan kita kepada mereka. Justru, memberikan peninggalan untuk bisa mereka lanjutkan. So…Finally… Kalau mau pensiun muda: lawan ketakutan anda dan tetapkan tujuan besar anda.

Sudah dulu yaa. Pesawat saya sudah mau boarding menuju baturaja, di sana lah tujuan saya dulu, sekarang berada. Semoga sharing saya ini berkenan yaaa… Feel free untukcomment atau bertukar pikiran. Salam Hebat.