Pensiun pak NAAS dan Pak Bejo

Pensiun pak NAAS dan Pak Bejo

by 4 March 2014

Pak Naas sekarang harus sering bermuram durja, karena hari-harinya di masa senja, harus banyak diisi dengan makan hati, bukan makan rempelo ati, tetapi diisi dengan siksaan bathin, karena kejadian-kejadian yang tak diinginkannya.

Sebut saja, baru-baru ini, ia harus pindah dari rumah Budi, anak ke tiganya, ke rumah Anton anak Pertama, karena menantunya, yaitu istri dari anak ketiga, terlihat sangat berang menatap kepada suaminya karena piring yang terjatuh dan pecah tersenggol tangan pak Naas yang mulai gemetar.

Bukannya berakhir dengan permakluman, karena memang pak Naas sudah mulai pikun dan lemah, suasana di rumah itu menjadi perang dingin berhari-hari antara anak dan menantunya. Tentu saja, Pak Naas tidak bisa berkata apa-apa, kecuali diam tafakur, berharap keadaan membaik yang kunjung tiba. Dia hanya bisa bicara pada si Anton, anak pertamanya, yang akhirnya memutuskan mengajak pak Naas untuk tinggal bersama Anton dan anak istrinya.

Tiba-tiba ingatannya melayang pada Pak Bejo, Teman sekantornya, yang dulu sangat Getol, mengajaknya menyiapkan Pensiun tambahan, tidak hanya tergantung dari Pensiunan yang disiapkan kantor dengan Tunjangan hari Tua dari Jamsostek saja.

Sekarang pak Bejo, Benar-Benar beruntung, karena Uang Pensiunnya cukup untuk membiayai hidupnya bersama Istri, membayar pembantu untuk merawat rumah dan melayani kepentingan pribadi serta membayar Sopir untuk mengantar pak Bejo dan istri pergi berobat, nengok cucu, Rekreasi atau kadang-kadang berlibur ke luar kota mentraktir cucu-cucunya.

Pak Bejo, benar-benar menjadi Kakek idaman bagi cucu-cucunya. Dia akan menjadi orang pertama, yang menemui cucunya sekaligus memberi Kado ketika para cucunya berulang Tahun. Ulang Tahun pernikahan anak-anaknya pun, pasti dirayakan dengan jamuan makan malam, yang ditraktir oleh pak Bejo. Pak Naas heran, Kenapa ditengah masa pensiun yang begitu menyedihkan baginya, Justru keadaan pak Bejo malah sebaliknya.

Apa Sich Rahasia Pak Bejo?

Pak Naas mencoba-coba merangkai ingatannya. Iya, sekitar 20 tahun lalu, Pak Bejo suatu ketika merah padam mukanya, karena ditertawakan koleganya, atas gagasan PENSIUN SEJAHTERA, yang diusulkannya kepada teman-temannya, seusai menghadiri sebuah seminar tentang perencanaan keuangan yang sangat menggugahnya, untuk segera menyiapkan Pensiun lebih awal selagi masih muda.

Rupanya, itu membuat pak Bejo benar-benar ingin membuktikannya, tidak heran jika sekarang, di Masa Pensiun, Pak Bejo memang paling beruntung dibanding teman-temannya. Entah berapa Persiapan dana pensiun pak Bejo, yang jelas, di Masa Pensiun justru pak Bejo boleh dibilang punya segalanya, yaitu kebahagiaan lahir, bathin maupun Spiritual.

“Baksoooo…. Baksoooo…. Baksooooo…”

Tiba-tiba lamunan pak Naas, terpecah oleh teriakan tukang bakso perumahan, yang membuatnya hanya bisa menahan “Rasa Kepengen” karena memang pak Naas harus mengatur keuangan terbatas yang didapat dari pensiunnya, yang harus dikelolanya dengan baik, karena dia sudah tidak bisa bekerja lagi, seperti halnya pak Malang, Temannya yang satu lagi.