Jamu “Tolak Bangkrut”, bernama : Cash Flow Management

Jamu “Tolak Bangkrut”, bernama : Cash Flow Management

by 28 January 2015

Kebangkrutan bukan hanya monopoli perusahaan besar seperti Adam Air, Sempati, atau Merpati. Tetapi terjadi di sekitar kita, ketika jutaan orang bereuforia dengan kewirausahaan, jutaan orang bangkrut di sekitar kita.

Ada berbagai macam cara untuk Bangkrut, begitu juga ada banyak cara untuk tidak bangkrut. Kebangkrutan adalah salah satu momok nomor satu, yang paling ditakuti para pengusaha, maupun mereka yang berencana untuk menjadi wirausaha.

“Bangkrut” artinya Cash Flow yang buruk, lebih banyak pengeluaran atau tagihan, dibandingkan kemampuan untuk menghasilkan Cash In. Cash Flow negatif yang terus menerus, itulah yang akan menyebabkan bangunan bisnis yang telah dibuat, roboh salah satu pilarnya, yaitu pilar Finansialnya.

Cash Flow yang buruk, bisa disebabkan karena Cash out yang terlalu banyak, bisa berupa tagihan, Hutang, biaya promosi, sewa tempat, pajak, Biaya, gaji, lembur, Bunga, penyusutan alat, pemeliharaan dll. Tanpa perencanaan dan kontrol yg baik, biaya-biaya ini bisa terus membengkak, tak terkendali, hingga memecahkan kepala pemiliknya 😀 . Disisi yang lain, Cash Flow yang buruk terjadi karena cash in yang kurang. Katakanlah sebuah usaha, dgn sangat hati mengelola pengeluaran, hanya 5 juta per bulan, Tetapi jika pendapatan sama dengan nol atau hanya 1jt per bulan, maka otomatis, defisit 4jt per bulan, jika terus berlangsung selama setahun, akan menyebabkan bisnis ini berujung pada kebangkrutan.

Pada kasus pertama, meskipun bisnis mampu menghasilkan pendapatan 10 juta per bulan, tapi pengeluaran 15jt per bulan karena tidak mampu mengontrol biaya-biaya, juga akan berujung kepada kebangkrutan.

Hutang, yang mengandung bunga, mengandung cicilan tetap, inventaris dengan biaya pemeliharaan dan penyusutan yang tinggi, biaya gaji yang terlalu tinggi, dll. biasanya adalah penyebab Cash Flow jadi negatif.
Banyak yang panik, ketika Cash Flow menjadi negatif, panik lalu menggantikan cash flow negatif, dengan mencari pinjaman, mencari investor, dll. Sabar dulu, alih-alih menambah berat beban cash flow dengan menambah hutang, sebaiknya rampingkan dulu struktur biaya yang ada.

Tentu ada 2 cara, untuk menghindarkan bisnis dari kebangkrutan, dengan menambah Cash In melalui meningkatkan penjualan, atau menurunkan biaya, agar Cash out berkurang. Mana yang paling mudah dilakukan?
Bukan… Bukan menambah Cash in. Karena menambah Cash In, biasanya dilakukan dengan meningkatkan penjualan, atau memperkuat penagihan piutang. Itu melibatkan pihak ketiga, kita perlu berpromosi, perlu menagih dll. Tetapi jika kita menghemat biaya, menurunkan pengeluaran, kita hanya perlu kebijakan internal. Menata kembali Struktur biaya. Hasilnya? Akan dengan cepat kelihatan.

Contoh sederhana: Ketika Saya nyaris bangkrut 9 tahun lalu, saya menghentikan beberapa majalah langganan yang tidak terlalu perlu. Menghilangkan beberapa acara kantor yang tidak signifikan untuk menambah Cash Flow, menutup cabang-cabang yang tidak produktif, menjual properti yang mengandung hutang dan cicilan, tidak menggantikan karyawan yang keluar, sehingga biaya gaji menurun, Strategi merampingkan Cash Out, sangat membantu percepatan kesehatan perusahaan saya.

Setelah beberapa Tahun, berhasil merampingkan struktur biaya, membangkitkan penjualan, perubahan terakhir yang saya lakukan adalah Restrukturisasi Business Model.

Kebangkrutan, nampaknya akan menjadi Kajian menarik. Karena STIEBBANK Kampus Pencetak Pengusaha, akan melakukan Kajian Khusus, mengenai “Jamu Tolak Bangkrut” dan “Jamu Tolak Miskin” Agar kewirausahaan di Indonesia semakin berkembang dengan fondasi yang kuat.

Nantikan, hasil penelitian tim STIEBBANK selanjutnya ya…
Salam Hebat
@putuputrayasa
Property Developer, Coach and Trainer
www.PutuPutrayasa.com