3 Macam Income, Agar Dapur Tetap Ngebul

3 Macam Income, Agar Dapur Tetap Ngebul

by 26 May 2014

Sebagai entrepreneur pemula sekaligus mahasiswa semester terakhir di jurusan teknik sipil UGM, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apakah akan menjadi Entrepreneur atau menjadi Karyawan?”

Pertanyaan ini, mungkin banyak menghantui teman-teman entrepreneur yang lain. Pertanyaan paling mendasar adalah “Bagaimana menjaga, agar dapur tetap ngebul?”. Pertanyaan ini, mirip pertanyaan seorang Broker properti dalam Road Show saya ke 19 Kota, Sebagai hasil kerjasama antara STIEBBANK, Kampus Pencetak Pengusaha, yang saya pimpin dengan Rumah123.com . Broker ini bertanya, “bagaimana caranya bertahan sebagai broker properti, terutama broker pemula yang penghasilannya belum menentu”

Ya.. perbedaan utama, menjadi karyawan dan menjadi entrepreneur adalah kepastian pendapatan yang berefek pada dapur ngebul atau tidak. ketika menjadi karyawan, maka sudah ada yang akan memikirkan pendapatan kita. sementara kalau menjadi entrepreneur, kita harus memikirkan dapur kita sendiri, bahkan memikirkan dapur orang lain.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengatasinya dengan pengaturan cashflow yang baik. Cash Flow yang baik artinya pengaturan antara cash in dan cash out, yang selalu berpedoman pada cash ini lebih besar daripada cash out. dari cash flow inilah sebuah bisnis bisa hidup, bisa membayar gaji karyawannya serta operasional lainnya. Dari Cash flow inilah, ketenangan dan kepastian dapur bisa tetap ngebul.

Setidaknya, ada 3 macam income yang perlu kita miliki sebagai seorang entrepreneur, agar dapur tetap terjamin ngebul. mengkombinasikan 3 macam income ini, adalah seni tersendiri, yang bisa menghidupi perusahaan dan pribadi sebagai seorang Entrepreneur.

Income pertama kita sering menyebutnya aktif income, artinya jika kita bekerja, maka income akan datang ke rekening. Seorang dokter akan mendapatkan pendapatan, dengan melayani pasiennya. membuka praktek di rumah adalah salah satu solusinya. seorang karyawan, menerima gaji bulanan, juga aktif income. Seorang pemilik warung makan, yang mendapatkan pendapatannya dengan memasak atau turut menjadi manajer di warung makan tersebut adalah salah satu aktif income.

Aktif income diperlukan agar dapur tetap ngebul. Ini adalah termasuk jenis income yang paling terkenal dan paling sering dilakukan orang di muka bumi ini. “kalau mau duit ya kerja”, begitulah kira-kira ungkapan yang paling terkenal dari income model ini.

Income kedua adalah Pasif Income, saya sendiri mengenal istilah ini dari Robert T. Kiyosaki. Ayah saya yang menunjukkan kepada saya pertama kali, betapa Pasif income layak diperjuangkan. Menanam karet, merawat dan menunggunya selama 7 tahun, lalu menikmati pendapatan dari kebun karet tersebut dengan atau tanpa bekerja selama 20-25 tahun adalah contoh Pasif income yang luar biasa. Pemilik kos-kosan, ruko, kondotel dan apartemen, mendapatkan pendapatan dari hasil sewa mereka.

Income ketiga adalah masif income, pendapatan dalam jumlah besar sekaligus. 1 Milyard yang diterima dalam sebulan misalnya, atau 10 milyard dalam 3 bulan, adalah contoh masif income. Menjual Ruko/Kos2an, Hotel, SPBU, mendapatkan kontrak besar sekaligus, adalah contoh Masif Income.

Mengkombinasikan, memodifikasi income dari Aktif menjadi Pasif, dari Aktif menjadi Masif, dari Pasif menjadi Masif, dari Masif menjadi Pasif dll. adalah seni, bagi seorang entrepreneur yang bisa mempertahankan dapurnya selalu ngebul, berpuluh-puluh tahun.

Jadi jika anda sudah serius untuk menjadi Entrepreneur yang tidak gajian dari orang lain, maka mulailah belajar mengkombinasikan pendapatan-pendapatan ini, merancangnya untuk anda, keluarga dan bisnis anda. Salam hebat!!! ***

*) Profesional Property Broker & Developer
Trainer, Coach & Book Author
Peraih MURI 2010 Pendiri Perguruan Tinggi Termuda Usia 26 Tahun,
CEO STIEBBANK
Twitter: @PutuPutrayasa