Ngobrol Bisnis di Angkringan

Ngobrol Bisnis di Angkringan

23 February 2014 0 comments

Di sebuah angkringan, sambil menikmati kopi panas, seorang bapak tiba-tiba curhat.Pembicaraannya sangat santai. Khas obrolan a la angkringan. Saat itu, hanya ada 3 orang, termasuk saya dan penjualnya. 2 tahun lalu dia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Pengunduran dirinya hanya karena dia mau ditugaskan ke luar pulau dalam waktu yang cukup lama. Sementara itu, anaknya membutuhkan kasih sayang orang tua. Istri bapak itu sudah beberapa tahun mengalami sakit yang cukup parah. Dia harus meninggalkan salah satu, keluarga atau karier. Dia lebih memilih menemani keluarganya. Padahal, jabatannya sudah cukup tinggi di sana.

Kebetulan hobi bapak itu adalah memasak. Ketrampilannya memasak cukup diakui banyak orang. Sampai-sampai si penjual angkringan pun ikut memuji, “masakkan beliau ini mak nyus. Nasi kucing (sebutan untuk nasi bungkus di angkringan) yang Mas makan itu juga buatan beliau”. Saya semakin tertarik mendengar curhatan bapak itu. Masakkannya berbeda dari nasi kucing di angkringan lainnya. Rasa, tampilan, dan cara membungkusnya sangat beda.

Setelah terjadi perbincangan panjang, saya mulai menangkap bahwa bapak itu adalah pengusaha yang cukup sukses. Sama sekali tak ada unsur sombong dari ceritanya. Yang saya tangkap adalah tutur kata yang lemah lembut dan bersahaja. Usaha beliau adalah sebagai pemasok nasi kucing dan sate usus. Omset sehari bisa mencapai 4 juta. Wow, angka yang cukup besar. Bisnisnya berkembang pesat dalam 1 tahun.

Selayak wartawan, saya mulai kepo tentang resep kesuksesannya membuka menjadi pengusaha. Penjelsannya sangat panjang, namun saya menangkap poin-poinnya.

Pertama, ia memiliki hobi memasak. Kalau sudah hobi, berarti seseorang senang dengan hal itu. Jika hobi itu dijadikan pekerjaan, sang pelaku pasti akan merasa menikmati. Kunci dari nyaman bekerja adalah bisa menikmati pekerjaan itu.

Kedua, menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada. Meskipun nasi kucingsudah ada sebelumnya,  dia membuat nasi kucing yang berbeda dari yang biasa. Buktinya, banyak yang tertarik dan menikmati.

Ketiga, menjaga kualitas. Semakin hari jumlah nasi yang dibuat semakin banyak. Pelanggannya semakin bertambah. Kadang seseorang terlena dengan untung yang berlimpah dan mengesampingkan kualitas, baik itu bahan, kebersihan, dan banyak hal. Meskipun harga 1 bungkus nasi kucing hanya Rp1000, dia selalu menjaga kualitas nasi kucing buatannya dengan teliti. Kualitas yang terjaga bisa menambah tingkat kepercayaan para pelanggan.

Keempat, berani mengambil risiko. Pengalaman jadi pengusaha adalah pengalamannya yang pertama. Pilihannya maju atau mundur. Kalau maju, harus sukses. Tentunya kesuksesan itu tak didapatnya dengan bermodal nekad. Berani mengambil risiko tidak sama dengan nekad. Segala hal dipersiapkannya.

Sungguh beruntungnya saya. Niatnya Cuma mampir minum teh panas, tapi malah dapat motivasi dari seorang bapak. Mungkin ini yang dimaksud banyak orang Jogja kalau obrolan angkringan itu ra ngintelek ning migunani. Artinya, tidak tampak intelek, namun berguna.

 

Salam Hebat!

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

<