Mengenali Ambush Writing

Mengenali Ambush Writing

by 8 June 2020

Istilah ambush ini populer di dunia pemasaran. Mereka mengenal istilah ambush marketing. Secara sederhana, ambush marketing merupakan upaya melakukan promosi dengan memanfaatkan momentum sebuah event tanpa menjadi sponsor resmi dari event tersebut.

Saya tergelitik mengadopsi istilah tersebut. Adakah praktik seperti itu di dunia penulisan? Siapa yang biasa mempraktikkannya? Untuk apa praktik ini dilancarkan? Apa hasil yang diperoleh? Termasuk, ini yang juga diperdebatkan di dunia pemasaran, bagaimana etikanya?

  1. Ambush by Association

Saat ini sedang beredar buku bersampul Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Berbagai judul, berbeda penulis, beraneka tujuan. Apakah semua buku tersebut mewakili kepentingan Jokowi? Bisa jadi tidak. Kebanyakan hanya mendompleng popularitas Jokowi supaya publik berpikir bahwa buku tersebut minimal ada kaitannya dengan Jokowi.

  1. On-Site Ambush

Pada saat buku di atas mencantumkan foto Jokowi, dan membahas profilnya di dalam, belum tentu praktik tersebut diketahui Jokowi. Alih-alih, tanpa sepersetujuan. Prinsip dari praktik ini hanyalah memanfaatkan momentum. Orang Jogja menyebutnya “aji mumpung”. Mumpung orang sedang membicarakan Jokowi, bikin ah tulisan tentang Jokowi. Kurang lebih begitu.

  1.  Personnel Ambush

Pada penulisan, terutama buku, kita kerap menjumpai adanya testimoni, yakni pernyataan penguat tentang buku yang diterbitkan. Testimoni bisa berasal dari tokoh masyarakat, artis, akademisi, atau siapa pun yang pendapatnya diyakini dapat memperkokoh kehadiran buku/tulisan.

  1. Timeline Ambush

Masih menggunakan contoh Jokowi. Praktik ambush writing dilansir dengan cara menghadirkan tulisan atau buku pada masa Jokowi sedang menjalankan kampanye sebagai calon presiden. Kalau pun tidak hendak mendukung sang tokoh, kehadiran tulisan yang menyebut nama tokoh tertentu di saat tertentu tersebut akan membangkitkan persepsi publik seolah-olah tulisan atau buku tersebut sepihak dengan objek yang diceritakan.

 Nah, seperti yang saya sodorkan sebelum menguraikan teknik-teknik di atas, pada praktik ambush writing ini, etika merupakan isu sensitif yang wajib diketahui dan disadari penulisnya. Istilah “memanfaatkan momentum” di atas menyiratkan ada sedikit gesekan dalam praktik ini. Maka, saran saya, sebaiknya tetap lakukan secara etis. Meminta izin kepada pihak-pihak yang namanya disebutkan lebih baik. Jika tidak, setidaknya cantumkan secara tertulis: “Penyebutan nama-nama dalam tulisan buku ini tanpa sepersetujuan nama-nama tersebut, dan tidak dimaksudkan sebagai dukungan kepada mereka.”