Pesan: Jangan Mudah Terprovokasi

Pesan: Jangan Mudah Terprovokasi

by 22 March 2020

Lebih dari sekali saya mendengar, baik secara langsung maupun melalui media masa, dan di group populer WhatsApp, ada seseorang yang memiliki ide dan niat baik, namun karena orang tersebut pernah gagal dalam usahanya, lalu ia diberitakan secara negatif yang belum tentu benar adanya.

Terjadilah pesan berantai yang mengajak lebih dari satu orang untuk mengesahkan berita tersebut. Tanpa disadari, seseorang tersebut menularkan kekhawatiran, sehingga banyak orang terkena dampak dari pesan berantai tersebut. Orang tersebut menyebarkan berita dan pernyataan yang seolah-olah mewakili, dan merasa paling tahu tentang semua hal dalam kehidupan.

Sadarkah kita, sikap seseorang tersebut menunjukkan sebuah kepribadian yang tanpa disadari layaknya seperti seorang provokator. Dengan sikap seolah-olah benar adanya, walaupun mungkin ia memang benar. Walaupun dalam sudut padang lain, seorang provokator jika ia menempatkan dalam situasi dan tempat yang tepat, dan cara yang positif akan berdampak positif.

Apakah tidak ada cara yang lebih arif, selain membuat statement yang belum tentu benar adanya, apakah kita tidak bisa bersikap melakukan pendekatan persuasif, elegan, membuat orang lain berdaya, menanyakan langsung secara one to one ketimbang menyebarkan rasa khawatir kepada orang lain.

Bagaimana kita dapat membangun bangsa Indonesia yang besar ini, sementara menghadapi satu orang saja kita harus melakukan sikap layaknya seorang hakim dan provokator andal. Apakah dengan memprakarsai provokasi tersebut, menjadikan kita lebih baik, hebat, walaupun mungkin benar adanya?

Sadarkah kita bahwa dengan sikap demikian kita akan menyakitkan seseorang dan melukai perasaan, dan berdampak keputusasaan dan bahkan menjadikan pembunuhan karakter?

Marilah kita mulai merubah cara pandang kita terhadap orang lain, cara pandang aku benar engkau salah, saya hebat engkau siapa, belajar menaklukan keegoan itu memang perlu perjuangan dan tidak tidaklah mudah, namun bisa dimulai. Dengan kita pandai mengenai diri kita, tentu kita akan mengenal orang lain.

Di dalam berelasi, kita tidak perlu takut untuk dikhianati atau ditipu. Jika itu terjadi, berpulang kepada diri sendiri, sebab kita mempunyai andil untuk dikhianati atau ditipu. Ayolah bangun bangsa ini dengan berpikir dan bersikap positif, dimulai dengan diri sendiri, kenali prinsip hidup kita, lalu kita hidup didalam prinsip tersebut.