Memaknai Hukum Sebab Akibat dalam Kehidupan

Memaknai Hukum Sebab Akibat dalam Kehidupan

by 17 March 2020

Hampir kegiatan sehari-hari saya cukup menyita waktu, dari mengurus pekerjaan rumah sebagai peran seorang istri, juga mengurus usaha kecil yang baru saya rintis lagi dan yang tidak kalah penting adalah berburu ilmu dimanapun berada akan selalu diusahakan, walau usia sudah tidak muda lagi.

Setiap pergerakan atau apa yang dilakukan adalah sebuah pembelajaran, pagi itu janji bertemu dengan seseorang untuk belajar dan memperoleh ilmu. Kami bertemu disebuah mall yang sudah kita sepakati bersama. Di dalam perjalanan memasuki mall tersebut, tentunya harus mencari parkir mobil telebih dahulu dan kebetulan sering sekali mendapatkan tempat yang cukup dekat dengan area yang akan dituju, seperti biasa selalu merasakan mendapat kemudahan dari Allah SWT, mungkin setiap keluar rumah, iklas dan berserah diri. “ I am a lucky woman “.

Kali ini tukang parkir membantu saya memberikan aba-aba ke kiri dan ke kanan hingga selesai mermarkir, sebelum turun saya selalu berbenah diri untuk memasukkan karcis parkir, dompet, serta kelengkapan yang akan dibawa turun.  Dan ups…kok sepertinya ada yang salah, mobil saya membuat orang lain susah, sebab diparkir sangat dekat dengan pintu mobil yang berada di samping.

Keberadaan saya di mall ini kira-kira akan memakan waktu 2 (dua ) hingga 3 (tiga ) jam, apa jadinya jika si pemilik mobil di samping saya akan masuk, dia akan mengalami kesulitan. Akhirnya kembali saya  menyalahan mobil untuk memperbaiki letak mobil untuk diselaraskan, agar orang yang memiliki mobil bisa masuk dengan biasa tanpa susah payah, akibat mobil yang diletakkan secara sembarangan.

Mobil adalah benda yang tidak bergerak selama si pemilik tidak mengerakkannya, namun dengan tidak bergerak alias diam dapat menyusahkan orang lain, jika sang pemilik tidak cukup peduli dengan hukum sebab akibat.

Sama seperti diri, di dalam menjalankan kehidupan yang akan berhubungan dengan keluarga, pasangan, relasi, serta lingkungan, perlu saling menyelaraskan. Kepedulian dimulai dalam diri, jika diam memancarkan perasaan negatif sekeliling kita juga akan berdampak negatif pula, hukum sebab akibat selalu bekerja.

Mitos tentang “ diam itu emas “ perlu ditempatkan pada waktu dan situasi yang tepat. Seperti yang tertulis di atas, bahwa setiap pergerakan adalah pembelajaran, jika kita selalu sadar maka keselarasan terbentuk jika kita saling respek, peduli, berempati, dan  mengasihi.