Keterpurukan Bukanlah Akhir dari Semuanya

Keterpurukan Bukanlah Akhir dari Semuanya

by 15 February 2020

Suatu waktu, saya berbincang dengan seorang rekan. Dia bercerita tentang salah satu rekan satu angkatan yang kondisinya tengah kurang baik, bahkan bisa dibilang tengah terpuruk dan berada di titik minus. Singkat cerita, rekan saya ini dulu punya usaha di bidang pengecoran logam untuk furniture karena satu hal usahanya gulung tikar. Tak hanya itu saja, untuk menutupi hutang-hutangnya, beberapa aset disita oleh pihak Bank. Mendengar cerita tersebut, saya kembali teringat celetukan salah seorang rekan di Jogja, hidup itu seperti roda akan terus berputa. Kadang berada di atas dan kadang berada di bawah selama roda tidak kempes di perjalanan.

Celetukan tersebut ternyata bukan hanya guyonan belaka, tapi sarat makna. Jika yang dimaksud dengan roda itu sebuah ban, misal dalam kondisi normal, asal terus menggelinding ada kalanya satu bagian berada di atas dan lainya di bawah. Bayangkan jika terjadi sesuatu, misal ban bocor tentunya perputarannya tak akan semudah jika dalam kondisi normal. Begitu pula dengan kehidupan. Selama napas masih ada, roda akan terus berputar. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Kita harus menjalani putaran-putaran roda kehidupan yang satu waktu menempatkan kita di posisi terhormat, tertinggi, dan di saat lain akan membawa kita untuk berada di posisi bawah.

Tadi, saya menekankan dalam kondisi normal. Walau sempat berada di bawah, roda akan terus berputar dan kembali ke atas. Namun, bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi, misal saat terpuruk. Bukannya berusaha bangkit, tapi justru menambah masalah. Jangankan berputar, kita malah bisa terjebak di kubangan masalah yang dalam dan terasa susah untuk dilewati.

Ada begitu banyak kisah yang bisa menggambarkan bahwa sebenarnya semua ada siklusnya. Tak selamanya sebuah perusahaan berada di atas. Begitu pula dengan yang di bawah. Cerita yang cukup memilukan adalah runtuhnya Nokia, salah satu produsen telepon seluler terkemuka yang bertahun-tahun menjadi penguasa pasar telepon genggam. Tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di dunia.

Antara tahun 2000-an hingga 2010, Anda tentu masih ingat telepon genggam apa yang paling menguasai pasar. Tentu saja, jawabannya adalah Nokia dengan berbagai model dan rentang harga. Telepon genggam asal Norwegia ini terkenal mudah digunakan dan memiliki fitur yang lengkap sesuai dengan kebutuhan. Ponsel merek Nokia juga sangat mudah digunakan. Saya masih ingat kata-kata rekan menyebut HP Nokia sebagai HP-nya orang bodoh karena tidak perlu mikir untuk bisa menggunakannya. Memang kenyataannya, HP merek ini memang begitu mudah digunakan dan tidak membingungkan orang awam sekalipun. Tak hanya soal kemudahan, di era kejayaannya, HP Nokia menjadi patokan HP dengan kualitas bagus. Namun, siapa sangka saat HP Android dan I Phone muncul. Nokia sang penguasa seluler bertahun-tahun, tiba-tiba tak berdaya dan puncaknya harus diakuisisi oleh Microsoft.

Kisah lain adalah perjalanan salah satu klub sepakbola papan atas di serie A, Juventus. Sebagai klub dengan raihan gelar liga terbanyak, siapa sangka bakal terjerembab ke kompetisi kasta kedua. Calciopoli di tahun 2006, skandal di Italia yang melibatkan beberapa klub profesional di antaranya Juventus, AC Milan, Fiorentina, dan Reggina, membuat si Nyonya Tua harus merangkak dari serie B untuk bisa kembali ke kompetisi kasta tertinggi.

Namun, Juventus membuktikan diri sebagai klub besar. Karena roda nasib ada dalam kondisi normal, hanya perlu satu musim untuk kembali ke kasta tertinggi dan memuncaki klasemen setahun kemudian.

Kisah perjalanan Nokia dan Juventus sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua bahwa kejayaan itu tak selamanya terjadi dan keterpurukan adalah hal yang biasa. Permasalahanya adalah bagaimana sikap kita saat menjalani masa-masa sulit. Kebetulan saja, Nokia ada di dalam posisi yang lebih sulit dan Juve mampu menyikapi keterpurukan dengan secepatnya menata diri untuk kembali ke puncak. Jadi, bagi Anda yang tengah berada di posisi kurang mengenakkan tak perlu risau. Keterpurukan bisa menjadi batu loncatan untuk sukses yang lebih besar dan bukan akhir dari semuanya.