Rahasia Bisnis Juara: Identitas dan Kapasitas

Rahasia Bisnis Juara: Identitas dan Kapasitas

by 15 June 2019

Menjaga agar organisasi bisnis yang kita pimpin atau miliki, bisa bertahan apalagi menjadi organisasi bisnis Juara, bukan perkara mudah. Dari Puluhan organisasi bisnis yang saya amati, tangani bahkan akhirnya saya akuisisi, saya menemukan sinyal yang sama, bahwa organisasi-organisasi pecundang, gagal mempertahankan identitas dan kapasitas mereka.

Kata Identitas dan Kapasitas ini, saya temukan dalam Neuro Logical Level, yang merupakan salah satu dari Ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang saya anggap sebagai salah satu ramuan dasar, dalam saya mengembangkan diri dan bisnis-bisnis saya.

Perubahan eksternal tidak diimbangi perubahan internal yang mengadaptasi perubahan yang terkadang kejam dan  radikal, membunuh satu persatu organisasi bisnis yang tidak siap untuk berubah. Hadirnya perusahaan-perusahaan baru, yang mengkanibal perusahaan-perusahaan lama, juga menjadi alasan utama, organisasi lama yang terlanjur sudah gemuk dan lamban. 

Menyerah bahkan sebelum mereka berhadapan, hanya karena mereka mendengar kehebatan mereka melalui media.

Setelah setahun melakukan riset mendalam terhadap industri Perbankan, dilanjutkan Fit and Profer Test di OJK, akhirnya tahun ini, 2016 saya resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali di sebuah Bank di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Zaman berubah, industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sekarang berada dalam pengawasan OJK, dimana dulunya peraturan-peraturan tentang perbankan dikendalikan oleh Bank Indonesia. OJK, sebagai sebuah lembaga Super Body di industri keuangan, menerapkan aturan-aturan baru, yang membuat BPR, yang banyak sekali harus mengikuti aturan-aturan baru yang bertujuan untuk menyehatkan industri Perbankan untuk UMKM ini.

Puluhan tahun lalu, diluncurkanlah sebuah program Paket Oktober 1988 yang lalu dikenal sebagai Pakto 88. Hal ini membuat, banyak orang bisa mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). 

Karena pendirian BPR saat itu, hanya mensyaratkan modal sebesar lima puluh juta rupiah, serta berbagai persyaratan yang memudahkan lainnya. Waktu pun berlalu, pada tahun 2000an, mendirikan BPR perlu modal milyaran, dan itulah yang diperkuat dan diperketat oleh OJK, karena tahun 2024, mendirikan BPR baru, perlu modal hingga belasan Milyard.

BPR lama, diminta menyesuaikan diri, sehingga banyak BPR yang dulunya modalnya sangat kecil, setiap saat diminta menambahkan modal, bahkan dengan aturan yang baru ini, banyak BPR kesulitan mengikuti aturan ini.

Itulah sebabnya, banyak BPR kelimpungan, mencari investor baru, untuk menyelamatkan Bank yang telah mereka bangun puluhan tahun.

Gempuran ini belum lah cukup, persaingan dengan penurunan bunga SBI dan KUR, juga ancaman tersendiri bagi BPR, karena Bank Umum yang bermodalkan Triliunan, banyak yang mengambil alih nasabah mereka, dengan bunga murah sampai Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya tak tertandingi murahnya.

Gempuran dan ancaman dari regulator maupun dari kompetitor ini, cukuplah sudah membuat kecut nyali BPR yang tidak siap. Wajarlah jika kemudian, jika secara internal, dari pemilik, komisaris, direksi dan karyawan bank, merasa bahwa mereka adalah “BANK KECIL” Yang hendak dikalahkan, alias menjadi Korban dari keaadaan ini. Secara tidak sadar, mereka membangun Identitas sebagai “Organisasi Pecundang”.

Keyakinan bahwa mereka adalah “organisasi pecundang” ini, dalam NLP disebut sebagai Identity. Identity atau Identitas adalah Unsur tertinggi dalam membangun sebuah organisasi setelah Spiritual Organisasi.

Bahkan, Spiritual Organisasi, ditentukan dari Identitas yang telah dibangun, meski letaknya di atas Identitas. Sementara Kapasitas dibangun atas Keyakinan dan nilai-nilai yang dipegang oleh organisasi tersebut.

Keyakinan bahwa organisasi bisnis ini telah menjadi “Organisasi pecundang” menjadi eksekutor bagi stagnannya pertumbuhan kapasitas organisasi tersebut. Stagnan berarti tertinggal, karena persaingan bisnis berarti berada di sirkuit balap.

Berlari dengan kecepatan standar saja ketinggalan, apalagi diam, itulah hukum bisnis yang mau tidak mau harus diakui. Kapasitas Organisasi, akan menentukan perilaku dan lingkungan organisasi yang membentuk budaya organisasi tersebut, menjadi pemenang atau pecundang.

Sejak tahun 2008, NLP melalui ilmu Neuro Logical Level ini, membantu saya menganalisa dan membangun kembali organisasi-organisasi bisnis saya yang sakit, maupun Bisnis yang baru saya take over dari orang lain.

Analisa ini, sangat jarang dilakukan oleh praktisi lain, karena umumnya NLP memang digunakan untuk menganalisasi Orang dan Orang-orang, sementara ini dilakukan untuk menganalisa organisasi.

Menganalisa, mendesain ulang, mendesain identitas dan kapasitas baru, mengimplementasikannya dalam keseharian bisnis tersebut.

NLP diramu dalam praktek Mentoring, Coaching dan Counseling menjadi sangat menarik, untuk membangun Identitas dan Kapasitas Bisnis Juara yang bermula dari “Organisasi Pecundang”. Dikombinasi dengan 4SET dan 4 Pilar Bisnis yang biasa saya gunakan, organisasi bisnis klien atau bisnis yang saya take over, akan berbalik arah dari kecenderungan bangkrut atau menjadi pecundang, bertahap menjadi organisasi Pemenang.

Nah, bagaimana dengan Identitas dan Kapasitas organisasi bisnis Anda? Apakah sudah siap Anda kembangkan menjadi organisasi Pemenang? Siap atau tidak siap, tentu harus kita persiapkan bukan?

Selamat bersiap-siap…

Membangun organisasi yang selalu menghebat

Salam Hebat,

Putu Putrayasa

NLP Trainer, Licensed by Co-Founder of NLP, Dr. Richard Bandler dan tergabung dalam Society of NLP, USA