Kalau Masalah Tidak Selesai – Selesai, Tandanya Kurang belajar

Kalau Masalah Tidak Selesai – Selesai, Tandanya Kurang belajar

by 18 February 2019

“Begitulah ceritanya Pak, itu mengapa saya harus datang ke sini, menemui bapak secara pribadi, untuk memohon maaf dari bapak. Karena kekurangan dan kesalahan saya, jadinya seperti ini”, ujar saya, sembari menyeka kelopak mata saya yang mulai menghangat.

Pria di hadapan saya adalah pria ke sekian yang harus saya temui, untuk menyampaikan permohonan maaf saya, karena kesalahan saya dalam manajemen diri, bisnis dan keuangan, saya harus mengalami krisis keuangan hebat dalam perusahaan saya. Kejadian ini persis 10 tahun sebelum tulisan ini ditulis menjelang penghujung tahun 2015.

Kesalahan dalam mengambil keputusan-keputusan kecil serta sederhana, berakumulasi menghasilkan tekanan dan depresi hebat dalam kehidupan saya. Ini juga bisa terjadi pada Anda. Terjadi pada keluarga maupun rekan bisnis Anda. Ini bisa terjadi, pada skala yang lebih besar, bangsa, dan negara bahkan dunia.

Keputusan memang salah satu penentu arah takdir kehidupan kita menuju. Keputusan untuk membaca buku Berpikir dan Berjiwa Besar 20 tahun lalu, membuat saya menemukan banyak hal-hal besar yang patut disyukuri dalam kehidupan saya. 

Keputusan sekelompok pemuda sekitar 70 tahun lalu, membuat akhirnya kita bisa mereguk udara kebebasan hingga hari ini, jauh dari desingan peluru dan desingan meriam.

Keputusan memang satu dari alat paling hebat dalam hidup seseorang, sekelompok orang bahkan sebuah bangsa. Keputusan saya yang salah, ketika mengubah aset-aset likuid menjadi tidak likuid, membuat saya terpenjara oleh hutang-hutang saya. Keputusan untuk mengabaikan berbagai buku, seminar dan training serta organisasi yang seharusnya saya baca, hadiri dan ikuti, membuat Bisnis. Persisnya: MASALAH BISNIS SAYA- Tumbuh CEPAT dibandingkan kemampuan saya menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di dalamnya.

Tahun 2003-2006 adalah tiga tahun terberat dalam hidup saya. Kehidupan saya, dipenuhi oleh masalah, pikiran saya dipenuhi oleh masalah, penyakit dan kesialan datang bertubi-tubi. Tahun ini sekaligus memberikan pelajaran sekaligus kesan mendalam tak terlupakan dalam hidup saya.

Pelajaran terpenting yang saya temui adalah “Masalah kehidupan pasti, telah, sedang, dan akan selalu datang dalam kehidupan seseorang, keluarga, organisasi, bisnis bahkan bangsa. Orang-orang yang masalahnya jauh melampaui kemampuannya menyelesaikan secara cepat, akan tergulung oleh masalah tersebut. Ketika seseorang dilanda stres, depresi, khawatir dan ketakutan berlebihan, pada saat itulah disebut sebagai KRISIS”.

KRISIS Moneter terjadi ketika masalah moneter sebuah bangsa, melebihi kemampuan dewan moneter, eksekutif dan legislatif sebuah bangsa untuk mengatasinya. Ketika inflasi menjadi tak terkendali, kenaikan harga-harga menjadi bola liar, keluar masuknya uang serta beban hutang sebuah negara menjadi ancaman menakutkan, saat itulah disebut sebagai KRISIS MONETER, yang di tahun 1998 kita sebut sebagai KRISMON.

Saya masih terkenang ketika itu, bagaimana US Dollar, meroket dari Rp. 2000 menjadi Rp. 16.000. Bank-Bank tidak mampu mengendalikan Rush alias penarikan simpanan dan deposito besar-besaran, puluhan bank besar bahkan ditutup, merger atau likuidasi. Gelombang PHK menghempas. Banyak orang yang tidak punya uang untuk melanjutkan kehidupan mereka secara normal bahkan ketika mereka telah mengencangkan ikat pinggang mereka.

Puncaknya terjadilah kerusuhan massal yang menelan ribuan jiwa. Pembakaran, penjarahan, perampokan menjadi pemandangan dan headline media massa terkemuka. Yesss… itulah Krisis Finansial terbesar yang pernah dialami oleh generasi saya atau di bawah saya.

Krisis bisa berarti depresi, ketakutan, kekurangan bahkan kerusuhan massal. Dalam skala bisnis dan pribadi, krisis bisa berarti hancurnya harga diri, lenyapnya aset, rusaknya hubungan, kebangkrutan dan berbagai manifestasi lainnya.

Sejak saat itu, saya terus meningkatkan Kapasitas diri saya.

Karena saya akhirnya menyadari, bahwa “Kalau masalah nggak kelar-kelar, itu tandanya kurang belajar.” 

Setelah itu, saya berani bayar mahal, untuk belajar. Belajar di Kelas NLP, Coaching, Hypnotherapi, Manajemen Bisnis, Properti, dan lain-lain. 

Saran saya, terlepas Anda sedang memiliki masalah atau tidak, alokasikanlah budget untuk belajar, minimal 10% pendapatan Anda, membangun Intangible ASSET sebelum menjadi Tangible Asset Anda. 

Semoga Bermanfaat

Salam Hebat

Putu Putrayasa

Business Mentor & Coach