PropTech, Trend Baru Properti Millenials

PropTech, Trend Baru Properti Millenials

by 21 January 2019

Selama ini bisnis yang menyesuaikan diri dengan kelompok usia produktif akan meraup banyak kesuksesan. Sebut saja bisnis layanan kesehatan yang membidik Baby Boomers. Atau industri teknologi komputer yang meroket pada zaman generasi Y.

Siapakah kini yang memegang peranan pada usia produktif? Jawabannya adalah generasi akhir di generasi Y dan angkatan Millenials. Generasi ini kini berusia 23-35 tahun. Angkatan Millenias ini dicirikan sebagai angkatan yang sangat cepat mendapatkan informasi, menginginkan teknologi yang cepat dan mudah digunakan, dan memiliki networking yang baik.

Tren properti tahun 2018 menangkap peluang ini. Banyak yang mengatakan bahwa bisnis properti tahun 2018  lesu seperti tahun 2017. Namun tren memprediksi sebaliknya, di Tahun 2019 Bisnis Properti malah akan menguat jika dikaitkan dengan kebutuhan generasi Millenials.

Tren properti yang terjadi adalah berkembangnya apartemen di pinggir kota. Hal ini diperkirakan karena biayanya yang lebih terjangkau. Apartemen dengan DP murah menjadi sasaran generasi Millenials. Apartemen untuk mahasiswa yang berbiaya rendah dan dapat disewa harian juga semakin berkembang. Selain itu ada bisnis co-working space yang akan menjadi tren. Kebutuhan akan ruang kerja yang tidak permanen karena mobilitas tinggi, dan koneksi internet cepat merupakan faktor terpenting dalam generasi Millenials. Ini yang sering disebut orang sebagai Prop Tech. 

Prop Tech dapat disederhanakan sebagai pembelian properti berbasis digital. Cara penjualan properti kini harus beradaptasi dengan zaman. Internet of Things (IoT) mengubah banyak hal. Kini properti mulai ditawarkan langsung tanpa perantara agen. Orang dapat melihat review lokasi dengan mudah dengan bantuan internet. Properti yang memberi layanan kemudahan akaes teknologi juga merupakan hal yang krusial.

Sebuah paparan studi kasus di bisnis Blue Ocean Shift tentang CitizenM. Hotel yang ingin beralih ke samudra biru. Ia berusaha menangkap pasar Millenials muda. Rata-rata dari mereka adalah penyuka traveling, hanya tinggal di hotel dalam waktu singkat. Wawancara dari pengguna, rata-rata dari mereka tidak memerlukan resepsionis untuk booking kamar. Terlalu lama waktu tunggunya. Dan yang mereka inginkan adalah hotel di pusat kota, kamar yang nyaman dan kedap suara, dan Wifi yang super kencang.

Manajemen hotel berembuk kemudian menghilangkan layanan resepsionis, tempat penerima tamu, menambah kamar hotel, menambahkan kenyamanan tempat tidurnya, dan yang terpenting menyediakan Wifi kencang. Pelaku bisnis properti sudah selayaknya menengok Millenials dan menyesuaikan penjualan properti dengan kebutuhan generasi Millenials yang serba cepat dan instan.