Salah Persepsi, Salah Nasib

Salah Persepsi, Salah Nasib

by 20 March 2018 0 comments

The Map is not The Territory”. Kalimat tersebut adalah kalimat pertama, yang membuat saya jatuh cinta pada NLP. Jatuh cinta, setelah beberapa tahun sebelumnya, saya mendengar kata NLP, tetapi saya belum begitu tertarik untuk menyelam lebih dalam, mengambil mutiara-mutiara dalam NLP.

Saya mendengar kata NLP pertama kali, dalam sebuah audiobook tentang bagaimana meningkatkan percaya diri, menggunakan teknik-teknik Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Apakah Anda seorang istri, seorang ibu, seorang kepala rumah tangga, supervisor, manajer, direktur, komisaris atau bahkan seorang mahasiswa, seorang lulusan yang sedang berburu lowongan kerja? Anda memerlukan pemahaman yang baik, bahwa persepsi berbeda dengan kenyataannya.

Kalimat sederhana, tetapi jika kurang terinstall dengan baik di pikiran bawah sadar Anda, dia akan menjadi kurang bermakna.

Saya membaca kalimat tersebut, dalam sebuah buku tipis tentang NLP. NLP Therapy, membahas tentang bagaimana NLP bisa membantu mengatasi masalah-masalah kehidupan.

“The Map is not the Territory”, bermakna Peta bukanlah wilayah sebenarnya. Saya mencoba memahaminya secara autodidak ketika itu. Belakangan di Kelas NLP Practitioner, saya mendapat penjelasan yang lebih jelas, Menu Makanan, seenak apapun makanan dalam menu, bukanlah makanan yang sebenarnya.

Peta, Globe, Google Maps atau apapun, bukanlah Wilayah sebenarnya. Persepsi, adalah peta dalam pikiran kita. Jadi peta, bukanlah kenyataan sebenarnya, sehingga Anda perlu memikirkan kembali, apakah persepsi Anda sudah benar?

Dalam Communication Model ala NLP, Anda akan menemukan bahwa untuk menghasilkan sebuah persepsi, sebuah fakta akan dihadang oleh 3 filter pikiran serta belasan alat pengolah data yang akan membuat fakta dan persepsi akan seringkali jauh, bias dan berbeda, tergantung kondisi, pengalaman, serta berbagai rekaman yang ada dalam alat-alat pengambil keputusan Anda.

Sebagai sebuah contoh, ketika saya masih berbisnis komputer dan ketika saat ini saya menjadi pengusaha properti, persepsi saya tentang KPR sungguh berbeda. Ketika saya menjadi pengusaha komputer, KPR berarti alat yang membantu saya, agar saya bisa membeli rumah impian saya lebih cepat.

Ketika bunga KPR turun, artinya angsuran KPR saya akan menurun. Sungguh sebuah kebanggaan, jika bank memberi kepercayaan kepada saya, untuk membeli rumah, cukup membayar uang muka saja, lalu sisanya akan dibayar oleh bank.

Tentu saja, saya sangat senang, karena selanjutnya saya hanya perlu membayar kepada bank, secara mengangsur. Itulah persepsi saya, ketika membaca tentang turunnya bunga Kredit Pembelian Rumah (KPR) di koran atau di Billboard. Turunnya bunga KPR artinya saya akan lebih murah membayar angsuran di bank.

Persepsi saya saat ini berubah, ketika saya menjadi seorang pengembang perumahan, pekerjaan saya adalah menjual tanah, rumah, ruko, kos-kosan dan lain sebagainya. Ketika membaca berita tentang turunnya suku Bunga KPR, saya berbeda dengan belasan tahun lalu ketika saya masih menjadi pengusaha komputer.

Turunnya suku bunga KPR bagi saya saat ini adalah meningkatnya kemampuan daya beli Konsumen. Kalo dengan Suku Bunga KPR 11%  sebuah rumah harga 200jt an, angsurannya misalnya adalah 2,8 juta, maka dengan bunga KPR angsurannya misalnya jadi 2,1 juta.

Tentu konsumen yang tadinya dengan angsuran 2,8 juta tidak mampu membeli, maka dengan angsuran 2,1 juta, semakin banyak yang mampu membeli dan mengangsur cicilan KPR mereka.

Itulah sebuah persepsi…

Perubahan persepsi bisa mengubah keputusan, persepsi yang keliru, bisa menghasilkan keputusan yang keliru. Keputusan keliru menghasilkan tindakan yang keliru. Dampak dari tindakan yang keliru adalah hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Persepsi bahwa utang adalah sumber bencana, tentu akan menghasilkan tindakan berbeda, dibandingkan dengan yang berpersepsi, utang ada yang baik dan ada yang jahat. Yang jahat akan membuat kita menangis darah, karena kita bekerja membayar bunga untuk sesuatu yang tidak penting, tidak produktif dan menguras keringat kita.

Sementara utang baik adalah utang yang membuat kita memiliki aset lebih banyak, pendapatan lebih besar dan akhirnya kekayaan bersih yang lebih besar.

Pernyataan “The Map is not the Territory” dalam NLP disebut sebagai Presuposisi. Ada puluhan Presuposisi di NLP, belasan di antaranya adalah Presuposisi inti, yang jika diinstall dengan baik dalam pikiran bawah sadar kita, dia akan mengubah cara-cara kita mempersepsikan sesuatu dan mengubah cara kita mengambil keputusan.

Jadi wajar saja, jika dengan satu tools ini saja, bisa mengubah keputusan seseorang, bagaimana dengan ratusan tools yang dimiliki oleh NLP?

Jika benar yang seorang guru motivasi dunia katakana “Keputusan adalah ibu kandung dari Nasib”, maka wajar saja, jika semakin banyak orang bernasib baik karena mereka belajar secara serius dan mempraktekkan NLP dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Selamat mengambil keputusan, belajar NLP tidak harus Mahal. Anda bisa mulai, dari berbagai informasi yang bertebaran di internet. Persis seperti yang saya lakukan tahun 2005, 11 Tahun yang lalu, saya sangat ingin mengikuti training-training NLP yang harganya selangit bagi saya ketika itu.

Saya bisa menunda hadir di kelas, tetapi saya tidak bisa menunda belajar NLP. Itulah sebabnya, saya membeli berbagai buku NLP, begitu juga saya mendownload berbagai informasi tentang NLP di internet, sebelum saya benar-benar hadir dikelas sertifikasi dan mengambil license dari jalur resmi NLP, yaitu Society of NLP USA, bahkan hadir langsung dikelas Dr. Richard Bandler sang co-founder NLP 40an tahun yang lalu.

Selamat belajar, selamat mengamati kembali, cara Anda dalam mengambil keputusan, meneliti dengan seksama, bagaimana cara Anda mengukir masa depan Anda melalui keputusan-keputusan Anda…

Salam Hebat,

Putu Putrayasa

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.