Bagaimana Cara Agar Bisnis Ritel Tradisional Bertahan Melawan Retail Digital?

Bagaimana Cara Agar Bisnis Ritel Tradisional Bertahan Melawan Retail Digital?

by 26 November 2015

Kemajuan teknologi digital berhasil mewujudkan banyak impian manusia, dari yang awalnya hanya angan-angan dan merupakan masalah yang tak terselesaikan, kini menjadi solusi nyata yang dapat dilakukan dengan mudah. Hal ini mendorong terjadinya perubahan pada perilaku manusia, dan akhirnya dunia berubah termasuk dunia bisnis.

Adanya perusahan seperti amazon, lazada, uber, Grab Taxi, Gojek dan lainnya. Perusahaan seperti mereka telah mengubah cara berpikir dan pola perilaku konsumen. Masyarakat tak mau lagi menunggu datangnya angkutan umum tanpa tahu kapan tepatnya angkutan tersebut tiba. Tak ada lagi orang rela datang ke sebuah toko sebelum memastikan bahwa produk yang ia cari ada di toko tersebut serta memberikan harga atau penawaran yang paling menarik dari toko lainnya. Ya, Itu hanyalah beberapa hal sederhana yang terjadi di era digital saat ini.

Begitupun dalam insutri perdagangan ritel, seperti yang kita tahu bahwa keberadaan minimarket seperti alfamart, indomart dan sebagainya saja sudah sangat modern beberapa waktu yang lalu. Bahkan itupun cukup mengeser peritel tradisional seperti warung atau toko kelontong yang berada di lingkungan masyarakat. Ditambah lagi saat ini, dengan bantuan digital hampir semua perusahaan saat ini berlomba untuk membangun pasar dan meningkatkan penjualannya melalui pemasaran digital.

BACA : Senjata Rahasia Bernama Digital Leadership

Sebut saja alfamart yang sudah meluncurkan website dan aplikasi perbelanjaan secara online. Mereka bahkan berani memberikan harga yang lebih murah jika pelanggan membeli via aplikasi. Langkah itupun diikuti oleh berbagai jaringan ritel lainnya seperti Carefour, MatahariMall dan lainnya. Bahkan tingkat produsen saat ini juga sudah mulai mrngonlinekan produknya secara ritel, seperti Kalbe farma melalui Kalbestore, L-men dan banyak lagi lainnya.

Lalu bagaimana nasib peritel tradisional ?

Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua barang yang dijual di retail tradisional juga dijual di jaringan retail modern. Meskipun beberapa diantaranya ada yang menjual produk lokal yang memang hanya dapat ditemukan di outlet ritel tersebut. Dari segi kualitas, kuantitas dan fasilitas harus kita akui peritel modern sudah jauh lebih maju meninggalkan peritel modern pada umumnya.

Namun sebenarnya ritel tradisional pun masih memiliki keunggulan dan celah yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan dan menghadapi persaingan.

Pertama, kekuatan melayani pembelian dalam volume kecil atau ketengan adalah salah satu kekuatan peritel tradisional. Dalam beberapa keperluan tak sedikit pelanggan yang sebenarnya hanya membutuhkan sebuah produk dalam jumlah kecil, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan saat itu saja.

Kedua, dengan membangun komunitas. Disadari atau tidak ketika kita menyediakan tempat untuk berkumpul atau nongkrong di warung atau toko kita. Maka secara tidak langsung kita tengah membangun komunitas pelanggan. Minimalnya ketika mereka berlama-lama didepan toko mereka akan membeli makanan atau minuman. Tentu saja jika kita jeli hal itu bisa lebih di maksimalkan lagi.

Ketiga, Peritel tradisional memiliki tingkat keluwesan yang lebih tinggi. Hal ini bisa menjadi value yang baik namun jika salah tempat bisa juga menjadi bumerang.  Misalkan saja peritel tradisional biasanya tidak memiliki ketetapan harga yang standar. Mereka akan bebas memberikan harga tergantung dari keuntungan yang ingin mereka dapat. Namun disisi lain keluwesan yang dimiliki peritel tradisional dapat dijadikan senjata untuk memberikan pelayanan yang tepat bagi segmen tertentu.

Keempat, ikatan emosional yang kuat dengan pelanggan. Tidak dipungkiri bahwa bagi peritel tradisional, pelanggan utama mereka adalah tetangga atau masyarakat lingkungannya itu sendiri. Sehingga mengenal dan menjalin hubungan yang baik adalah salah satu cata untuk mengikat mereka (engage) pada bisnis ritel kita.

Demikian kali ini. Semoga bermanfaat.