Antusias Dan Pelayanan Yang Baik Saja Tidak Cukup Untuk Berhasil Menjual

Antusias Dan Pelayanan Yang Baik Saja Tidak Cukup Untuk Berhasil Menjual

by 1 November 2015

Mungkin Anda pernah membaca sebuah buku atau bahkan diajari oleh seorang ahli penjualan atau atasan Anda tentang bagaimana menjual produk dengan baik. Salah satu yang biasanya diajarkan adalah bahwa kita harus antusias atau bersemangat ketika berjualan. Dan tentu saja kita juga dituntut untuk memberikan sebuah pelayanan yang baik.

Mari kita lihat di kenyataan yang sering terjadi di kehidupan kita. Pernahkan Anda datang ke sebuah toko lalu disambut dengan ramah oleh penjaga toko tersebut. Kemudian dengan sopan pelayan toko tersebut menanyakan apa yang kita cari, setelah itu mereka dengan profesionalnya menjelaskan produk-produk yang ada di toko tersebut.

Namun pada akhirnya Anda malah tidak jadi membeli di tempat tersebut bahkan tidak mendengarkan penjelasan si pelayan hingga akhir. Bukan karena produk yang dia inginkan tidak ada, namun karena suatu hal yang membuat Anda tidak nyaman.

Sama halnya dengan yang terjadi di pusat perbelanjaan ketika seorang sales yang sudah berdandan menarik, memberikan senyum ramahnya lalu menghampiri dan menawarkan Anda suatu produk. Terkadang kita bukannya tertarik, malah justru langsung membentengi diri kita agar tidak terbujuk untuk membeli.

Padahal apa yang salah? Mereka sudah sangat antusias, bahkan sudah memberikan pelayanan yang ramah dan bahkan sangat profesional menjelaskan produk yang ia jual. Namun mengapa kita atau kebanyakan konsumen lainya justru merasakan hal yang tidak nyaman dan bahkan membentengi diri kita untuk tidak jadi melakukan pembelian atau melakukan pembelian namun dengan terpaksa.

Sebuah kasus menarik lainnya ialah tentang apa yang Anda lakukan ketika seorang pengamen menghampiri Anda dengan menyanyikan sepotong lagu lalu menyodorkan sebuah gelas plastik meminta Anda mengisinya dengan receh?. Sebagian dari kita mungkin akan memberinya dengan beragam alasan. Mulai dari yang penting mereka segera pergi atau memang uang receh tersebut dianggap cukup menghargai hiburan singkat yang mereka berikan.

Namun kondisi berbeda pernah saya lihat atau mungkin juga pernah Anda temui di kawasan titik nol Yogyakarta. Tiga orang pengamen memainkan alat musik yang berbeda, mereka bernyanyi dengan lepas dan nyaman. Mereka tidak menyodorkan gelas plastik kepada orang yang lewat. Hanya sebuah topi lusuh yang mereka letakan di depan mereka.

Mereka tak menghiraukan orang yang lewat memberikan uang atau tidak. Mereka akan tetap menyanyi dengan baik seolah mereka bernyanyi untuk diri mereka sendiri. Dan hasilnya berbeda, bukan sekedar receh mereka lebih banyak mendapatkan uang lembaran yang menurut pengamatan sepintas saya jumlahnya cukup lumayan.

Tidak ada yang salah dengan antusias dalam menjual. Bahkan itu sangat diperlukan. Pelayanan yang baik apalagi. Namun yang terjadi adalah ketika seorang penjual begitu agresif dalam melakukan promosi atau penjualan, secara tidak sadar mereka memancarkan gelombang  yang mengintimidasi seseorang untuk membeli.

Meskipun secara verbal kita mengatakan sesuatu yang menarik, namun dalam hati dan emosi yang terpancar dari dalam diri kita lebih didominasi oleh emosi untuk menjual. Dan inilah yang dirasakan oleh pembeli atau lawan bicara Anda sehingga sebagian besar dari mereka merasa tidak nyaman dan justru berbalik membentengi diri mereka untuk tidak membeli.

Nah dari kasus tersebut, tentu kita bisa menyimpulkan masing-masing apa yang membedakan keduanya dalam “menawarkan” apa yang mereka jual?. Emosi apa yang mereka pancarkan saat mereka melakukannya?.

Salam Hebat.