Menelisik Persaingan Ojek Online, Mampukah Gojek Bertahan?

Menelisik Persaingan Ojek Online, Mampukah Gojek Bertahan?

by 13 October 2015

Menelisik fenomena ojek online yang beberapa bulan ini ramai dibicarakan media, sepertinya menjadi topik yang menarik untuk dibahas kali ini. Boomingnya sebuah brand bernama Gojek sebagai penyedia jasa ojek dengan sentuhan digitalnya, sukses membawa tren baru bagi bisnis ojek pada umumnya.

Konsep menarik dari Gojek bahkan membuat banyak publik figur seperti artis dan tokoh lainnya penasaran untuk mencoba layanan mereka, dan dengan bangga memposting moment tersebut di sosial media. Kesuksesan Gojek ini seolah menjadi kue manis yang mengundang banyak orang untuk ikut mencicipi dan ambil bagian.

Sejak pertengahan tahun 2015 ini saja, terhitung sudah ada berapa brand kompetitor baru muncul baik brand lokal maupun luar negeri. Persaingan bisnis ojek online menjadi semakin ketat karena setiap brand memiliki kelebihan dan penawaran menarik tersendiri. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mendapatkan kucuran investasi yang fantastis.

  1. GrabBike

Brand asal Malaysia ini memang menjadi kompetitor paling berani dalam bersaing memperebutkan pasar ojek online. Bermodalkan kucuran dana yang berlimpah, mereka berani memberikan penawaran harga yang sangat menarik bagi konsumen ojek di Jabodetabek.

  1. Ojesy

Tampil beda dengan mengusung konsep Syariah, Ojesy memberanikan diri untuk ikut mencicipi manisnya tren bisnis ojek online. Mulai beroperasi sejak Agustus 2015, Ojesy memang masih dalam tahap awal. Tak ingin berlama-lama menunggu aplikasi mobilenya sempurna, Ojesy sudah menerima permintaan melalui telepon, SMS, WA dan BBM.

  1. Blu-Jek

Pertengahan September lalu, lahir Blu-jek sebagai pendatang baru dalam bisnis ojek online dan beroperasi di daerah yang sama. Tak ingin kalah, Blu-jek juga memanfaatkan aplikasi mobile seperti Gojek dan GrabBike sebagai channel pemasaran mereka. Dan tak tanggung-tanggung BluJek langsung mengerahkan 1.000 driver diawal peluncurannya.

  1. Jeger

Dengan warna dominan kuning, Jeger mencoba memberi diferensiasi yang berbeda serta sistem yang menarik bagi armadanya. Dalam operasinya, Jeger menerapkan argo untuk menghitung ongkos perjalanan. Dengan begitu penumpang akan dikenakan biaya sebagaimana jarak yang ditempuhnya. Kurang lebih mereka menawarkan harga Rp 2.800 perkilometernya.

  1. LadyJek

Hampir sama dengan Ojesy, LadyJek juga menyasar pasar wanita. LadyJek sudah lebih dulu menggunakan aplikasi digital untuk pemesanannya. Diperkenalkan sejak awal Oktober lalu, LadyJek cukup mendapat sambutan positif. Dan bahkan telah memilik 700-an armada yang siap mengantarkan dan memberikan rasa aman bagi penumpang wanita. Tak tanggung-tanggung LadyJek bergandengan dengan perusahaan provider Indonesia yaotu PT XL Axiata Tbk dalam operasionalnya berupa dukungan paket data hingga layanan mobile advertising.

Lalu bagaimana reaksi Gojek dan langkah apa yang mereka ambil untuk menghadapi persaingan?

Selain masih dengan harga promonya dan mulai berekspansi ke beberapa kota lainnya. Gojek menyadari bahwa mereka harus terus berinovasi dan menawarkan hal baru lagi. Sehingga mereka mulai menambah berbagai layanan yang bisa mereka kerjakan selain jasa ojek. Seperti dianatranya Mulai dari GoFood, Go-Box, Go-Glam, Go-Massage hingga mendirikan Go-Tech Valey sebagai wadah membangun komunitas pebisnis Start-up.

Konsisten dan terus mengeluarkan ide-ide kreatif dalam memanfaatkan sosial media sebagai media dan strategi yang efektif untuk mencipatkan awarereness dan branding menjadi salah satu kunci utama Gojek bisa menjadi top of mind bisnis ojek online saat ini.

Melihat geliat Gojek dalam menghadapai persaingan saya semakin sadar akan pentingnya ilmu, pengalaman dan kreativitas. Nah siapkah kita menghadapi persaingan bisnis kita sendiri?

Salam hebat