Beras Plastik, Ketika Bisnis Tanpa Etika dan Nurani

Beras Plastik, Ketika Bisnis Tanpa Etika dan Nurani

by 23 May 2015

Temuan beras plastik yang terjual bebas di berbagai tempat cukup meresahkan masyarakat, termasuk saya. Tidak terbayang rasanya jika ada anggota keluarga kita yang mengkonsumsi beras yang mengandung plastik tersebut. Karena tentu saja senyawa kimia yang ada dalam plastik tersebut sangat berbahaya dan meracuni kesehatan tubuh.

Jika kita lihat bentuknya, bagi orang awam seperti saya agak sulit membedakan mana beras asli mana beras plastik, terlebih beras plastik tersebut ternyata memang di oplos atau digabung dengan beras asli. Semoga pemerintah bisa bergerak cepat dalam menangani masalah ini. Dan untuk saat ini kita mesti ekstra hati-hati dalam membeli beras.

Bisnis tanpa etika, beginilah jadinya. Sebagai seseorang yang hidup dari bisnis, berusaha mencari keuntungan dengan mengambil dan memanfaatkan celah peluang. Saya amat mengutuk hal ini. Berbisnis atau menjadi seorang entrepreneur bukan tentang menghalalkan berbagai cara dan membuat produk agar bisa ditukar dengan uang. Namun bagaimana kita bisa memberikan value bagi orang lain sehingga mereka bersedia membayar sekian harga tertentu untuk produk atau jasa kita.

Belajar dari mentor, guru dan pengalaman yang telah saya lewati. Kepuasan menjadi seorang entrepreneur seringkali bukan hanya ketika kita berhasil memperoleh tingkat penghasilan tertentu. Namun bagi saya, kepuasan itu ada ketika melihat senyum puas di wajah konsumen setelah menggunakan jasa atau produk saya.

Dalam menjual property atau tanah, kebahagian terbesar saya adalah ketika melihat wajah bahagia pembeli property saya. Yaitu saat mereka melihat dan menggunakan property tersebut dengan senang dan puas. Begitupun dalam seminar atau pelatihan serta kampus yang saya dirikan, kesuksesan para peserta, mahasiswa dan lulusan kampus tersebutlah yang menjadi kebahagian terbesar bagi saya.

Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia memang menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Jumlah permintaan beras yang tinggi jauh dan tidak seimbang dengan ketersediaan dan jumlah produksi beras di Indonesia saat ini yang masih sangat minim.

Indonesia yang dulunya dikenal sebagai swasembada pangan kini malah terpaksa mengimpor ribuan ton beras dari luar negeri. Akhirnya harga beras menjadi relatif tinggi dan tidak bisa terbeli oleh kalangan tertentu. Hal ini tentu membuka peluang yang besar bagi siapapun untuk memberikan solusi beras dengan harga yang murah.

Namun mencampurnya dengan beras plastik agar bisa dijual murah, entah apapun motivasinya itu bukan sebuah bisnis namun tindakan kejahatan yang pastinya akan segera hancur dan dihilangkan. Tentu ada bisnis atau solusi lain yang lebih baik dan menguntungkan bagi semua pihak. Dan itu adalah tugas kita untuk menemukan dan melakukanya.

Bisnis bukan cuma untung rugi, namun juga ada tanggung jawab, etika dan moral yang harus kita jaga agar bisnis bisa terus bertahan dan berkembang. Mari menjadi pengusaha Hebat yang dilandasi moral dan nurani yang luhur, etika yang baik, serta menjadi solusi bagi sesama.

Salam Hebat.