3 Hal Yang Harus Anda Waspadai Ketika Ekonomi Melemah

3 Hal Yang Harus Anda Waspadai Ketika Ekonomi Melemah

by 17 May 2015

Pernahkah Anda mendengar media yang memberitakan bahwa ekonomi kian melemah? Harga nilai tukar rupiah yang semakin tinggi dibandingkan mata uang negara lain. Inflasi harga yang tidak bisa dihindari dan menyebabkan efek domino kenaikan harga hampir di semua produk dan jasa. Semua ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan di berbagai industri.

Namun kita sadari bahwa perubahan seperti ini akan selalu ada, untuk itu sebagai pengusaha kita dituntut untuk cermat dan tanggap dalam menghadapi perubahan ekonomi secara makro. Karena di saat ekonomi dunia khususnya di Indonesia dinyatakan melemah, akan terjadi berbagai perubahan yang bisa menjadi tantangan atau ancaman bagi perusahaan Anda.

Pertama, yang paling nyata akan terlihat adalah adanya perubahan perilaku konsumen (consument behaviour). Ketika harga kebutuhan hidup semakin tinggi sementara mereka pendapatan dan presepsi masa depan yang tidak pasti, konsumen secara umum akan melakukan efisiensi pengeluaran. Mulai dari mengurangi volume berbelanja, beralih ke produk dengan harga murah hingga menunda pembelian jika sekiranya barang tersebut tidak mendesak dibutuhkan.

Kedua, akibat dari perubahan konsumen di atas maka akan menyebabkan perubahan pasar dan peta persaingan. Beberapa konsumen mungkin mulai beralih kepada perusahaan yang menjual produk yang lebih murah dan sesuai dengan anggaran yang ia miliki.  Dan atau sebaliknya, tidak sedikit perusahaan memilih jalan untuk menurunkan harga agar tetap terjadi penjualan dan bertahan selama masa resisi ini.

Tentu saja ini akan mendorong terjadinya perang harga. Dan naasnya peluang untuk memenangkan pasar yang seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh perusahaan dengan dana besar dan atau brand/merek yang sudah sangat kuat sehingga memiliki konsumen yang sangat loyal.

Ketiga, akibat ekonomi melemah harga bahan baku akan meningkat. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada meningkatnya cost produksi, yang kemudian akan mengurangi margin keuntungan yang didapat. Namun jika perusahaan ingin tetap mempertahankan margin keuntungannya biasanya mereka akanmenaikkan harga jual. Sayangnya seringkali hal itu tidak menjadi langkah efektif karena harga penawaran yang naik biasanya menurunkan jumlah permintaan.

Akhirnya mau tidak mau, perusahaan akan melakukan perombakan anggaran. Biaya iklan dan pemasaran biasanya menjadi  salah satu objek yang dipangkas dalam anggaran dimasa ini. Melakukan efisiensi pemasaran dalam jangka pendek dinilai positif dalam menyelamatkan margin keuntungan perusahaan. Namun jangan sampai lengah, mengurangi iklan dan promosi juga sedikit banyak akan berdampak pada penjualan yang menurun.

Untuk bertahan selama masa ekonomi yang melemah perusahaan perlu memikirkan alternatif lain yang lebih efektif. Perusahaan harus lebih cermat menemukan cost atau biaya yang bisa dipangkas namun tetap tidak mengurangi value dari produk itu sendiri. Dan yang terpenting adalah terus membangun merk yang kuat serta menjaga hubungan dengan konsumen (customer engagement) sehingga kita memiliki konsumen yang loyal.

Salam Hebat.