Kontroversi Keputusan Sabdaraja Vs Keputusan Pengusaha

Kontroversi Keputusan Sabdaraja Vs Keputusan Pengusaha

by 11 May 2015

Baru-baru ini media sedang hangat-hangatnya membahas Sabda Raja yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X selaku raja keraton dan gubernur Provinsi DIY. Keputusan atau isi dari Sabda Raja ini menuai protes atau kotroversi baik di internal keluarga keraton, abdi dalem hingga masyarakat Jogja pada umumnya.

Sebagian menilai bahwa Sabda Raja tidak relevan dan menyalahi aturan yang sudah ada sejak zaman leluhur kerajaan. Seperti penggantian gelar Buwono menjadi Bawono, Kaping Sedoso jadi Kasepuluh, dan lain sebagainya.  Lalu hari Jumat (8/5) Sri Sultan akhirnya melakukan jumpa pers dan menjelaskan alasan dari keputusannya, yang menurut paparannya merupakan perintah dari Tuhan lewat leluhur kepada beliau selaku raja. Sebagian akhirnya menerima, namun masih banyak juga yang bersikeras tidak setuju dengan keputusan tersebut.

Begitupun dalam sebuah perusahaan atau organisasi, kontroversi terhadap suatu keputusan seringkali terjadi baik dari pihak internal perusahaan ataupun pihak eksternal. Tentu saja bagi Anda yang menjadi pemimpin perusahaan, mau tidak mau kitalah yang berwenang dan dituntut untuk memberikan keputusan dalam berbagai hal. Mulai dari keputusan rekrutmen karyawan, kerjasama hingga keputusan ekspansi usaha.

Dalam mengambil sebuah keputusan seorang pengusaha biasanya berpikir secara otak kiri dan otak kanan. Mengandalkan intuisi dan firasat, adalah salah satu metode yang digunakan otak kanan dalam menentukan sebuah keputusan. Tak dapat dipungkiri bahwa Ilmu dan pengalaman yang pernah dilewati seseorang dapat menjadikan intuisi orang tersebut semakin tajam dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat.

Namun perlu kita sadari juga bahwa meskipun terkadang pengambilan keputusan menggunakan intuisi ini tepat dan sangat dibutuhkan dalam keadaan tertentu. Kita tidak dapat bergantung sepenuhnya pada metode ini, karena intuisi dan firasat juga dipengaruhi oleh faktor emosi pada keadaan tertentu. Sehingga terlalu beresiko untuk dijadikan keputusan final, untuk itu sebaiknya intuisi atau firasat tetap digunakan sebagai hipotesa saja.

Dan untuk selanjutnya, kita harus berpikir dan mempertimbangkan keputusan dengan cara otak kiri.  Yaitu berpikir dan mempertimbangkan keputusan melalui perhitungan yang matang dan teliti. Menggunakan berbagai informasi dan data yang ada dari dalam maupun luar perusahaan kemudian mengolahnya dengan berbagai metode pengambilan keputusan yang rasional.

Terlebih bagi Anda yang sudah memiliki perusahaan besar, tentu tidak bisa sembarangan dalam mengambil keputusan. Membuat keputusan dengan cermat akan membantu kita untuk lebih memahami masalah dan tujuan yang ingin dicapai serta resiko dan konsukensi dari berbagai pilihan keputusan yang mungkin dilakukan.

Apakah keputusan yang dihasilkan dengan cara ini paling tepat dan tidak kontroversial? Kemungkinan salah akan selalu ada, kontroversi pun demikian. Membuat keputusan yang tepat bukan berarti kita harus menyenangkan semua pihak. Tapi lebih dari itu setidaknya keputusan yang cermat dan matang akan lebih mudah dijelaskan secara rasional kepada bawahan, karyawan atau orang yang kita pimpin agar mengikuti keputusan yang kita ambil.