Manajemen Krisis Hadapi Kampanye Hitam

Manajemen Krisis Hadapi Kampanye Hitam

1 May 2015

Limbah pemilu presiden itu bernama kampanye hitam. Di media, baik media cetak, media elektronik, maupun media sosial, limbah itu masih berserakan. Pembuangnya tak membersihkan. Pengonsumsinya tak menyingkirkan. Beberapa saja yang masih suka mengais dan mengedarulangkan.

Kampanye hitam telah mengantarkan siapa menang siapa kalah. Sekaligus, kampanye hitam telah mengajarkan kepada publik tentang mana fakta mana dusta. Publik juga turut belajar bagaimana menyikapi kampanye hitam secara lebih dewasa: menyaring, memilah, dan menguji informasi.

Tak melulu dalam politik, dunia bisnis juga akrab dengan terminologi kampanye hitam. Bersamaan dengan pilpres kemarin, contohnya, Apple dihempas kampanye hitam di Cina. Plaform ponsel cerdas tersebut juga dituduh “bekerja sama dengan pemerintah dari negara manapun untuk membuat lubang keamanan dalam setiap produk atau layanan.” Fitur penginformasi lokasi yang melekat pada iPhone pengguna dianggap mengancam rahasia negara. Sumir, mirip dengan kampanye hitam pilpres kita yang menyerang kandidat dengan tuduhan “antek asing”. Padahal, siapa sekarang yang tidak terhubung dengan asing?

Untuk menangkal isu tersebut, yang ternyata dipicu oleh kasus ketidakpuasan pelanggan, Apple mengutus langsung CEO-nya Tim Cook untuk meminta maaf dan berjanji memperbaiki pelayanan pelanggan, khususnya di Cina.

Di bulan-bulan yang sama, Indonesia, terimbas kampanye hitam anti-dumping atas produk minyak sawitnya. Nah, menariknya, untuk menghalau kampanye sesat tersebut, KBRI Brussel menayangkan kampanye bantahan dengan mengunggah video animasi di Youtube berjudul Protect Paradise For All: An Animation on Anti Palm Oil Dirty Secret.

Pelajaran penting yang bisa kita petik dari dua contoh di atas bagaimana menyikapi kampanye hitam dalam bisnis. Lagi-lagi, kuncinya ada pada komunikasi. Ketepatan dalam memilih chanel komunikasi menentukan efektivitas  operasi pembersihan diri dari lumpur hitam kampanye.

Pertama, dalam kasus Apple, mereka terlebih dulu menyelidiki alasan dasar dari peredaran kampanye hitam. Ini penting supaya terhindar dari jebakan salah fokus. Orang bisa saja menduga serangan pada Apple dipantik oleh persaingan merek mengingat Cina sedang gencar dalam branding juga. Rupanya tidak sekompleks itu.

Kedua, pemilihan media. Tahu bahwa yang dihadapi adalah kartel perdagangan global, dan tembusan diplomasi cukup berliku, KBRI Brussel sebagai representasi dari pemerintah Indonesia memilih menghimpun dukungan publik untuk me-like video berdurasi 4 menit 26 detik. Sederhana dan edukatif.

Demikianlah. Justru ketika ditimpa kampanye hitam, kita beroleh kesempatan menghadirkan diri secara simpatik dan profesional. Hadapi kampanye hitam secara jernih supaya kita tak larut menjadi limbah.

AA Kunto A

Coach Writer, Praktisi Komunikasi NLP STIEBBANK

Related Communication Articles

Similar Posts From Communication Category