Alat Dongkrat Keuntungan Bisnis

Alat Dongkrat Keuntungan Bisnis

30 April 2015

Sore itu hujan rintik-rintik. Udara di pedesaan cukup dingin menusuk tulang. Di ruang tengah kami, ayah, ibu, kakak, dan dua adik saya tengah berkumpul menceritakan kejadian yang dialami hari ini. Tiba-tiba adik saya yang paling kecil nyeletuk, “Hujan-hujan begini enaknya ada makanan.” Ibu kemudian beranjak ke dapur mencari bahan makanan yang bisa diolah. Bergegas ibu kembali ke ruang tengah sambil berkata, “Di dapur tidak ada apa-apa.” Ayah menyahut dengan mengatakan bahwa bahan makanan ada di kebun belakang rumah. Beliau kemudian menyuruh kakak dan saya mencabut ketela pohon untuk digoreng menemani teh dan kopi panas.

Saya dan kakak dengan sigap mengambil jas hujan. Kami berdua ke kebun belakang rumah, memilih ketela pohon mana yang paling besar dengan daun yang sedikit. Kami berdua tahu bahwa semakin besar pohon ketela dan semakin sedikit daunnya maka biasanya ubinya akan makin besar. Kakak memilih pohon yang paling besar karena badannya lebih besar. Saya memilih pohon yang lebih kecil karena badan saya kecil. Saya lihat kakak saya berjibaku mencoba mencabut ketela pohon. Peluh bercampur air hujan mengalir di sekujur badannya. Saya pun begitu. Kami berdua sudah berkutat dengan pohon ketela sialan ini. Tapi tak satu pun pohon ketela tercabut.

Di tengah keputusasaan saya ingat kejadian tadi pagi sewaktu saya melihat orang-orang kampung sedang gotong royong membangun rumah kayu. Pada saat menggeser tiang-tiang rumah mereka menggunakan pengungkit kayu untuk memudahkan pekerjaan mereka. Saya kemudian berlari ke kandang kambing untuk mengambil tongkat balok kayu yang ada di situ. Saya ambil balok kayu dan seutas tali plastik yang biasanya saya pakai untuk menggembala kambing. Saya segera mengikat batang ketela dengan dengan balok kayu menggunakan tali.

Kemudian saya angkat balok dan… horeee… saya berhasil mencabut ketela tersebut. Kakak saya di ujung kebun kemudian berteriak, “Kok bisa? Badan kamu kan lebih kecil. Badan saya yang lebih besar dan lebih kuat saja ndak bisa.” Saya jawab bisa dong….. Kehidupan di sekitar kita sudah mengajarkan banyak hal. Kakak saya kemudian mendekat untuk tahu kenapa saya bisa mencabut pohon ketela tersebut. Setelah melihat alat yang saya pakai, dia kemudian berujar, “Ooo… pantes bisa. Saya kok ndak terpikirkan ya?”

Kejadian pada masa kecil tersebut hari ini telah menginspirasi saya dalam mengelola keuangan dalam bisnis. Kita butuh pengungkit untuk mengangkat atau mendongkrak keuntungan bisnis. Apa yang dapat Anda jadikan pengungkit keuntungan bisnis?

 Oleh Sukasmanto

Konsultan Keuangan, Dosen STIEBBANK