From Zero To Hero

28 April 2015

‘Semula ia hanya pedagang kaki lima, kemudian…..’

‘Anak muda ini cuma bermodal sedikit uang dan tekad yang besar, namun sekarang……’

‘Modal kecil, pernah bangkrut, lalu bangkit, kini ia…..’

Kira-kira kalimat di atas yang sering kita temui ketika membaca kisah sukses seseorang. Kisah sukses itu kemudian menelurkan kisah inspiratif di balik kesuksesan tersebut. Tidak heran, karena sekarang tokoh-tokoh membumi seperti itu, yang dinilai semula bukan siapa-siapa (zero) tiba-tiba melesat tinggi tingkat finansial dan kesuksesannya. (hero). Tokoh-tokoh seperti itu lebih menginsipirasi dan memotivasi masyarakat daripada orang yang dianggap sudah dari sononya kaya.

Namun tentu tidak ada sesuatu yang disebut ‘tiba-tiba’ tersebut. Semua melewati proses, semua melewati kerikil tajam dan pengorbanan yang tidak kecil, baik energi, pikiran, maupun finansial. Tengok saja kisah salah satu tokoh perempuan yang disebut kekayaanya melebihi kekayaan Ratu Elizabeth.

Ia adalah J.K. Rowling. Titik terpuruknya terjadi ketika ia mengalami perceraian sesaat setelah putri sulungnya lahir. Dalam kondisi perekonomian yang sangat buruk, Rowling mengajak putrinya menetap di Edinburgh. Dalam perjalanannya dari Manchester ke London dengan kereta api pada tahun 1990 itulah Rowling mendapat ide cerita Harry Potter. Rowling dan putrinya hidup dalam keterbatasan dengan subsidi dari pemerintah. Semangat Rowling untuk menyelesaikan kisah Harry Potter terpacu demi mempertahankan hidup bersama putrinya. Hampir setiap hari ia mengajak putrinya yang masih berusia beberapa bulan ke cafe untuk menulis. Kebetulan pemilik café itu cukup berbaik hati membiarkan Rowling duduk berjam-jam mencari inspirasi di tempatnya hanya dengan memesan satu cangkir minuman.

Saya rasa, kisah J.K. Rowling ini mirip atau serupa dengan kisah-kisah hero lainnya. Dan setiap hari kita tidak pernah sepi cerita dan inspirasi tokoh-tokoh baru yang muncul menjadi hero. Baik hero untuk dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan masyarakat, dan lebih luas lagi bangsa dan negara.

Setiap orang pasti ingin sukses. Saya juga berani mengatakan bahwa setiap orang sebenarnya punya potensi untuk bisa sukses. Yang membedakan adalah tidak setiap orang memiliki strategi untuk mencapai sukses tersebut. Ada tiga hal yang harus diperbaiki dalam diri seseorang bila ia ingin sukses. Yang pertama adalah intrapersonal skill, yang kedua interpersonal skill, dan yang terakhir adalah technical skill. Ketiganya mirip sebuah piramida yang harus dikuasai dari bawah.

Jika bisnis Anda sekarang di titik zero, anda boleh yakini kelak sampai di titik hero.

Oleh Sunti Melati

Penulis, Dosen STIEBBANK

Related Entrepreneur Articles

Similar Posts From Entrepreneur Category