Manisnya Madu “Lanceng”

Manisnya Madu “Lanceng”

26 April 2015

Hari Kamis yang lalu, saya duduk di sebuah ruang tunggu dosen sebuah perguruan tinggi Islam di daerah Jogja Selatan. Ruangan itu berisi bapak-bapak dan ibu-ibu dosen sedang menunggu kelas mereka. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan pakaian muslim berpeci duduk berhadapan dengan saya dibatasi oleh sebuah meja tamu pendek di depan saya, sambil meletakkan sebuah tas plastik berisi botol-botol berbentuk kotak kecil tepat di depan tempat duduknya, terhitung sekilas oleh saya, berjumlah lebih dari sepuluh botol, warna putih transparan, dan terlihat isi botol berwarna putih susu.

“Sibuk Ustadz?” saya menyapa orang tersebut layaknya seorang marketing yang sedang prospekting. Ustadz adalah panggilan akrab untuk dosen di perguruan tinggi tersebut. “Biasa Mas, bawa madu,” ustadz itu berkata sambil menata botol-botol di dalam tas plastik. “Madu apa itu, kog warnanya berbeda?” saya bertanya sambil penasaran. “Lanceng, Mas,” ustadz tadi berkata. “Waduh, kog namanya agak sensitif untuk pria ya?” saya berkata sedikit menjelaskan.

“Kalau di Jogja, image kata-kata lanceng untuk kejantanan itu Ustadz, apa bisa membuat jreng dan josh begitu?” saya melanjutkan perkataan sambil sedikit bercanda. “Betul….betul…betul….!!!” Ustadz tadi berkata dengan logat Upin dan Ipin. Dan seketika di dalam ruangan yang tadinya sepi berubah penuh dengan tawa bapak-bapak dan ibu-ibu yang saling bersautan berkomentar.

Akhirnya semua perhatian terfokus kepada ustadz yang membawa “lanceng” tadi. “Agar bisa lanceng, bagaimana cara minumnya Ustadz ?” saya bertanya dan disambut suara tawa yang semakin heboh di ruangan itu. “Bisa diminum langsung dua sendok makan, atau dicampur dengan kuning telur dan susu lebih hot dan josh!” ustadz tadi berkata tanpa ekspresi seorang sales yang menawarkan dagangannya. “Berapa harganya?” saya bertanya sambil membayangkan begitu “lanceng” pasti khasiatnya.

“Selain kejantanan, lanceng ini bagus untuk mengobati maag, sesak nafas, tekanan darah tinggi, luka bakar, menguatkan otot, batuk, menetralkan asam lambung, bagus untuk penderita diabetes juga, Mas!” Ustadz tadi berdakwah khasiat produknya. “Harganya berapa?” saya semakin penasaran dengan jawaban yang diberikan. “Per botol ini Rp 80.000, dan saya ambil keuntungan rata-rata 20 %, Mas,” ustadz menjelaskan tentang bisnis “lanceng” nya. Saya teringat buku marketing yang ditulis oleh Philip Kotler, tentang brand association. Di buku itu diuraikan, sebuah produk yang dikaitkan atau dihubungkan dengan sesuatu yang berujung kepada brand image tertentu, akan memudahkan dalam memasarkan sebuah produk. Wow sebotol madu “lanceng” yang dihasilkan dari seekor tawon “lanceng” menjadi bisnis yang manis menggiurkan.

Susatyo Herlambang

Pengusaha, Penulis Buku, Dosen STIEBBANK