Adakah Pahlawan dalam Bisnis?

Adakah Pahlawan dalam Bisnis?

22 April 2015

Hari ini, 10 November, kita memperingati hari pahlaman. Lazimnya, kepahlawanan lekat dengan heroisme militeristik dan aksi-aksi politik. Pahlawan identik dengan mereka yang mengangkat senjata dan kemudian gugur di medan laga.

Lalu, bagaimana peran bisnis? Apakah bisnis tidak menyumbangkan andil dalam gerak kebangsaan sehingga tak boleh disemati label pahlawan? Atau, dalam konteks yang lebih relevan, sejatinya, seperti apakah sikap kepahlawanan yang bisa diperankan pebisnis?

Saya terinspirasi oleh dua tokoh ini. Philip Zimbardo, pemikir dari Universitas Stamford, berujar, “Untuk menjadi pahlawan, berarti anda melangkah melintasi garis dan bersedia berkorban. Pahlawan selalu mengambil risiko. Pahlawan selalu melakukan sesuatu yang kebanyakan orang tidak ingin mengubah.”

Kedua, Joseph Campbell, “Seorang pahlawan adalah seseorang yang telah memberikan hidupnya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.”

Baik Zimbardo maupun Campbell menekankan aspek-aspek ini sebagai syarat seseorang layak disebut pahlawan: memberikan diri melebihi dirinya. Dalam konteks berbisnis, pahlawan adalah mereka yang menjalankan bisnis dengan tujuan lebih besar daripada bisnisnya itu sendiri. Pahlawan adalah mereka yang menggerakkan bisnis bukan untuk keuntungan bagi dirinya, melainkan untuk kemaslahatan publik lebih luas.

Kiranya kita bisa menoleh atau berkaca. Adakah di sekitar kita sosok pahlawan yang dimaksud? Atau sudahkah kita menjadi pebisnis yang yang meneladan sosok pahlawan itu?

Beberapa gagasan yang sudah diinisiasi oleh para pebisnis tanah air untuk membumikan semangat kepahlawanan (berbuat lebih melebihi dirinya) di antaranya:

Pertama, mendorong penguatan gerakan kewirausahaan. Sebagaimana cita-cita pendiri bangsa, setelah kemerdekaan diraih, kemandirian mesti dicapai. Kewirausahaan adalah salah satu tangga mencapai cita-cita itu.

Kedua, menciptakan semakin luas lapangan pekerjaan. Dengan berwirausaha, maka peluang membuka lapangan pekerjaan semakin dekat dan mudah. Semangat padat karya, dengan mengakomodasi sumber daya manusia semakin banyak, mendekatkan bangsa ini kepada kemakmuran.

Ketiga, memperkuat merek lokal. Kemandirian dalam hal citra diri juga penting. Lepas dari bangsa pekerja, kita melangkah menjadi bangsa yang menjadi poros bisnis sebagai pemilik merek. Merek lokal memperkuat nilai tambah.

Keempat, turut memperjuangan transparansi bisnis bebas dari korupsi. Sebagai pilar ekonomi bangsa, bisnis mesti menjadi penggerak kehidupan. Supaya pergerakan lancar dan optimal, maka mesin mesti bekerja sempurna. Supaya sempurna, komponen mesin mesti bersih dan tidak cacat.

Gagasan baik ini perlu disambut antusias. Bisnis mesti dikelola jauh melebihi kepentingan bisnis itu sendiri. Bisnis mesti memelopori semangat kepahlawanan untuk bangsa. Mau ambil bagian?

Oleh AA Kunto A

CoachWriter dan Pengajar di STIEBBANK