Membeli Social Media

Membeli Social Media

22 April 2015

Bakrie membeli Path, aplikasi jejaring sosial yang sedang populer. Ini berita. Juga tentu saja lekas menyebar di media sosial. Masyarakat internet (netizen) heboh, termasuk mewanti-wanti pengguna path supaya berhati-hati bakal ditunggangi untuk kepentingan kampanye politik keluarga Bakrie.

Di belahan dunia yang lain, raja media Ruper Murdoch juga baru saja membeli kantor media sosial di Irlandia, Storyful.  Aksi beli Murdoch ini pun tak sepi dari

Bedanya, Bakrie membeli sebagian saham saja senilai Rp 304 miliar, Murdoch mengakuisisi perusahaan setara Rp 300 miliar. Bedanya lagi, yang dibeli Bakrie adalah platform, sedangkan yang “disusuki” Murdoch adalah situs.  Toh keduanya membeli genre bisnis sama yang berbasis jejaring sosial.

Betul, media sosial kini sedang jadi primadona. Ekstrimnya, kaum miskin kota pun menggandrunginya. Tolok ukur kemiskinan pun bergeser ke keterjangkauan terhadap akses media sosial. Miskin ekonomi belum ada apa-apanya dibandingkan dengan miskin eksistensi di media sosial. Maka tak heran jika hingga pelosok-pelosok kampung pun media sosial sudah diakrabi. Boleh lapar asal eksis.

Maka, terlalu lazim sekarang mengedarkan diri lewat jejaring sosial. Sesiapa yang tidak beredar pasti terlempar. Pun entitas bisnis yang tak hadir di media sosial kehilangan kedudukan di benak pelanggan.

Keputusan Bakrie dan Murdoch beranjak setingkat lebih tinggi. Mereka bukan saja eksis di media sosial, melainkan menguasai. Tentu, berdasarkan hitung-hitungan bisnis, menguasai media sosial menghadirkan keuntungan yang jauh lebih besar. Buktinya mereka mau mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk membeli kerumunan yang riuh ini.

Melihat angkanya, kita bisa bilang bahwa media sosial makin berharga mahal. Ya, kenyataannya memang mahal. Setidaknya dari dua contoh di depan. Namun, menyimak manfaatnya, media sosial tak lagi mahal untuk investasi. Media sosial adalah kendaraan super cepat untuk pemerekan, pemasaran, hingga penjualan. Kenapa tidak mahal? Sebab, pengguna media sosial dikenal sangat bermurah hati dalam berbagi tentang apa pun. Di media sosiallah terpajang data bisnis yang begitu berlimpah, yang disediakan secara sukarela oleh para penggunanya.

Murdoch mungkin belajar dari skandal penyadapan News of The World  hingga ia memilih menutup media miliknya itu. Mengapa harus menyadap untuk mengorek informasi rahasia kalau bisa membeli media sosial, tempat orang bermurah hati mengobral informasi? Begitu pulakah isi kepala Bakrie—yang masih diingat belum tuntaskan kasus Lumpur Lapindo?

AA Kunto A

Dosen @STIEBBANK