7 Hal Penyebab Kegagalan Bisnis

7 Hal Penyebab Kegagalan Bisnis

by 7 April 2015

“80 % bisnis mengalami kegagalan pada tahun kedua dan 80 %

sisanya mengalami kegagalan pada tahun ke lima”

( Michael E. Gerber)

 Bisnis properti, kalau kita benar-benar mau fokus menekuninya merupakan bisnis yang ‘menggiurkan’ karena keuntungan yang diraihnya lumayan besar. Namun, sebaliknya kalau bisnis properti dijalankan hanya setengah-setengah, tidak serius, tidak professional dan manajemennya kurang tertata rapi, maka bisa dipastikan hal itulah yang menjadi penyebab kegagalan bisnis. Nah, lantas kapan bisnis Anda gagal, satu atau dua tahun lagi, itu semua tergantung Anda sendiri.

Sangat mengejutkan hasil survey yang dilakukan oleh Michael E. Gerber dan dimuat di Majalah Bisnis Excellent, edisi 16, Juli 2011 lalu, tentang bisnis-bisnis baru yang mengalami kegagalan pada tahun kedua sebanyak 80 %. Apakah bisnis Anda berada dalam 20 %-nya? Tentunya, semoga Anda berada di tingkat kesuksesan. Sebagai pemilik bisnis, Anda harus mengetahui apa penyebab kegagalan dalam berbisnis, sehingga kita harus mengantisipasinya dan menjadikan bisnis Anda menjadi sukses dan lebih sukses lagi.

Ada tujuh alasan utama kegagalan bisnis adalah sebagai berikut:

(1) Ketidakjelasan bisnis yang dijalankan. Maksudnya disini adalah tidak fokus apa bisnis yang dijalankan. Karena tidak ada kejelasan bisnis yang dijalankan mengakibatkan pemilik bisnis tidak jelas tujuannya dan belum membuat rencana bisnis tertulis untuk memandu mereka dalam area bisnis, area keuangan, area keluarga dan area kesehatan. Tanpa tujuan dan rencana tertulis, Anda seperti orang yang berwisata ke wilayah asing tanpa paduan atau peta

(2) Rendahnya mental: tidak sabar, tamak dan bimbang.

(3) Rendahnya penjualan, pelayanan  dan buruknya hubungan.

(4) Rendahnya pengetahuan keuangan.

(5) Lemahnya sistem pengontrolan dan rendahnya disiplin.

(6) Kekurangan modal kerja.

(7) Lemahnya perencanaan.

            Saya rasa kegagalan bisnis properti, bukan hanya faktor internal saja, tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor eksternal, seperti krisis global yang pernah dialami Indonesia. Kegagalan krisis global pernah dirasakan oleh pengembang properti nasional kita, tetapi mereka kita lihat tetap optimistis, berhati–hati dan mulai menyiapkan berbagai strategi dalam menghadapi kondisi saat itu. Pengembang saat itu cukup mampun menahan dahulu pembangunan proyek yang belum terjual sambil mereka menunggu kondisi ekonomi menjadi stabil.

Nah waktu itu, pemangku kepentingan industri properti tidak terlalu panik karena perkembangan saat itu dirasakan merupakan fenomena anomali pasar nasional akibat dampak krisis global. Secara industri, sebenarnya properti nasional tidak terkena dampak yang berlebihan karena pasar terisolasi dari industri global.  Pelaku properti nasional hanya perlu bersikap slow down untuk melewati masa anomali yang menurut perkiraan tidak akan lebih dari setahun ke depan.

Terkait dampak krisis keuangan global yang terjadi saat itu, dengan pengalaman di era krisis 1997 – 1998 lalu serta dukungan pemerintah, kalangan pengusaha di sektor properti dan bidang lainnya akhirnya cukup mampu bertahan. Rupanya kalangan dunia usaha di Indonesia sudah sangat berpengalaman dengan krisis, seperti yang pernah terjadi, sehingga bisa tetap optimistis terhadap perekonomian di Indonesia. Pengalaman ini bisa dijadikan modal untuk membangkitkan kepercayaan investor agar berinvestasi di Indonesia.

Meskipun krisis keuangan global telah memaksa sektor properti di Amerika berjalan lambat, namun berbeda dengan di Indonesia yang diprediksikan hingga akhir tahun sektor properti tidak akan terganggu. Pasalnya para investor belum menarik investasinya pada sektor properti, terlebih mereka para ekspatriat yang belum merasa terganggu. Sehingga diprediksikan sektor properti nasional kita tidak ada masalah dan ini terbukti hingga kini tidak ada gejala yang sangat mengganggu bisnis. Memang, kita harus akui di awal krisis global, pelaku bisnis properti kita sempat dihinggapi rasa ketakutan, dan bahkan sebagian investor sudah menahan target pembangunannya.

Maka, sebagai upaya mencegah terjadinya pertumbuhan yang lambat pada sektor properti, pemerintah kita kemudian melakukan langkah – langkah proteksi bagi para pengembang. Krisis keuangan global memang diharapkan tidak berimbas banyak pada sektor properti di Indonesia. Karena, kenaikaan suku bunga jelas akan merepotkan pengembang dan terutama pembayaran KPR. Nah, sekarang dunia properti tumbuh subur seperti jamur. Ini pertanda peluang bisnis di sektor ini sangat menarik bagi semua, dan tidak sedikit yang berobsesi menjadi kaya dengan bisnis properti. Bagaimana dengan Anda?