Sukses Properti, Harus Jago Negosiasi

Sukses Properti, Harus Jago Negosiasi

by 2 April 2015

Dalam dunia bisnis negosiasi bagaikan perang tanding, siapa yang handal dalam teknik dan strategi dia yang bakal menang. Begitu juga dalam bisnis properti. Menang dalam negosiasi disini adalah mendapatkan harga murah, jika anda menjadi pembeli dan meraih harga tertinggi bila anda berada dipihak penjual. Pendeknya, jika anda ingin sukses properti harus jago negosiasi. Dan, kita harus mengakui bagaimana Mansur (37), pemain pemula asal Pontianak mencoba mengubah nasibnya dengan kemampuan bernegosiasi. Berbekal dorongan teman seprofesi dan sedikit nekat,  kini dia memiliki properti sendiri serta mampu menjual rumah sebanyak 350 unit hanya dalam waktu dua bulan.

Mansur pertama kali terjun  dalam industri properti atau pengembang perumahan baru sekitar beberapa tahun lalu, tepatnya 2011. Setahun, ia bekerja sebagai tenaga pemasaran pada satu perusahaan properti, dia melihat peluang usaha yang cukup bagus dan setahun kemudian ia membangun rumah sendiri.

“Sebelum menjadi developer, saya sebagai pekerja di sebuah perusahaan perumahan selama setahun. Selanjutnya saya membangun perumahan sendiri, juga baru berjalan  setahun,” ujar Mansur, Pengembang Komplek Kota Raya, Jl Raya DesaKapur, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak. Mansur kepada sejumlah wartawan, menceritakan bagaimana awalnya ia terjun menjadi pengembang dan berhasil menjual sebanyak 250 unit rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP) dalam waktu yang sangat singkat.

Menurutnya, untuk membangun rumah tidak semudah yang dibayangkan, banyak juga lika-liku yang harus dijalani. Di antaranya, ia pernah ditolak oleh orang hanya gara-gara mau meminjam uang untuk modal beli tanah. Meskipun begitu, dari sekelumit masalah yang dihadapi, ternyata ada satu kenangan unik yang tidak dapat dilupakan Mansur, yaitu pernah diomelin karyawan atas negosiasi tanah.

“Saya pernah dimarahi karyawan karena negosiasi beli tanah. Saya tidak berani tawar harga kepada pemilik,” tuturnya. Waktu itu, Mansur kurang yakin dengan modalnya yang pas pasan. Tapi atas dorongan karyawan tadi, dia beranikan diri untuk menawar dengan harapan batal. Kendati demikian, rasanya tidak percaya seperti pepatah untung tak disangka, malang tak diduga.

“Pemilik tanah dengan ramah mengatakan kerjakan tanah tersebut, kalau kurang modal. Masalah uangnya bisa dibayar nanti, atau dijadikan jaminan di bank tak masalah jawab pemilik tanah,” kenang  Mansur.  Keberhasilan menguasai ratusan hektare tanah tersebut, menjadikan Mansur mengembangkan perumahan FLPP yang merupakan program subsidi pemerintah dengan memiliki tanah yang semakin luas lagi. Dari lokasi yang dimiliki, pembangunan rumah baru masuk ke-200 unit selama 6 bulan, namun rumah yang terjual sudah mencapai 350 unit dalam jangka waktu dua bulan.

Ya, dalam negosiasi, sarannya jangan sampai Anda ‘jatuh cinta’ kepada properti yang menjadi obyek transaksi. Ingat, cinta itu bisa membutakan dan melumpuhkan. Begitu pula dalam transaksi properti, bila Anda jatuh cinta maka obyektifitas akan terbutakan dan logika bisnis Anda terlumpuhkan.

Tujuan Anda dalam bernegosiasi adalah hasil dari transaksi bukan obyeknya. Posisi Anda disini adalah sebagai pembeli, jadi hasil yang ingin diraih adalah mendapatkan harga termurah dari properti yang dimaksud, bukan asal mendapatkan properti berapapun harganya layaknya seorang pecinta. Selain itu, meskipun Anda dilarang untuk jatuh cinta bukan berarti tidak ada kata kompromi. Karena tanpa kompromi bukan negosiasi namanya dan hanya akan membuahkan kegagalan dalam transaksi. Sementara yang kita inginkan adalah negosiasi yang sukses. Sukses dalam mendapatkan properti dengan harga termurah.

Nah, ketika mendapatkan harga penawaran properti yang Anda inginkan, jangan terburu-buru menawar harganya, akan tetapi tahan dulu untuk mempelajari dan menganalisa. Sampai kapan harus menahan diri.? Sebaiknya sampai penjual menghubungi Anda dan menanyakan apakah kita jadi mengajukan penawaran berapa dan penawaran seperti apa yang akan kita ajukan. Selain itu, walaupun Anda belum melakukan penawaran, Anda harus memiliki berapa batas harga maksimal properti yang Anda inginkan. Untuk menentukan maksimal harga tentunya Anda terlebih dahulu melakukan analisa atas properti dimaksud dan membandingkan harga penawaran dengan harga pasar, apakah lebih rendah, rata-rata atau lebih tinggi. Setelah menentukan batas maksimal harga keberanian Anda dalam membeli properti dimaksud, ajukan penawaran lebih rendah dari harga maksimal tersebut. Apabila penjual setuju denga harga yang Anda tawarkan Anda tentunya tambahan keuntungan bagi Anda. Bila tidak, Anda sudah memiliki batas maksimal berapa harga properti yang Anda inginkan.