Bahagia Mengerjakan Pekerjaan

Bahagia Mengerjakan Pekerjaan

25 March 2015

Hari Senin pagi di daerah Janti, Jogja. Saya terinspirasi dengan sebuah bengkel mobil yang sangat ramai pengunjung. Mobil berjumlah 13 unit dari berbagai macam merek berjejer di belakang bengkel menunggu antrian untuk diperbaiki.

            Seorang laki-laki bertubuh kurus sedang duduk di dekat ruang tunggu pelanggan sambil melihat-lihat sebuah piston mobil di tangannya. “Om, saya akan memperbaiki rem mobil, apakah bisa di bengkel ini?” saya bertanya kepada laki-laki tersebut. “Masih bisa Mas, tetapi agak sore mengerjakannya, antri,” kata laki-laki tersebut dengan ramah. “Baik, silakan dikerjakan om, saya menunggu antrian.” Saya serahkan kunci mobil kepada laki-laki yang terlihat tenang dan sabar tersebut.

            Sambil menunggu antrian mobil yang sedang diperbaiki, saya berbincang dengan laki-laki tersebut, ternyata beliau adalah pemilik bengkel. “Wah, Om ini seorang sarjana teknik mesin ya?” penulis menebak dengan yakin. “Ha… ha… ha … wah, itu fitnah Mas. Om ini SMU lulus saja beruntung,”  kata pemilik bengkel sambil bercanda. “Terus, bengkel ini mempunyai tenaga mekanik berjumlah 12 orang, bagaimana ceritanya?” saya semakin penasaran.

            “Sejak lahir, Om ini tumbuh di keluarga yang berlatar-belakang pedagang.  Engkong seorang pedagang, Papi juga seorang pedagang,” dengan bangga pemilik bengkel bercerita masa lalunya dengan logat bahasa Mandarin. “Engkong mengajarkan kepada Om untuk selalu jujur, menjaga nama baik, melayani pelanggan dengan baik,” pemilik bengkel bercerita sambil mengingat kejadian masa lalunya.

            “Terus, apa kunci ramainya pengunjung di bengkel mobil ini?” saya semakin penasaran. “Om bekerja dengan tenaga mekanik berjumlah 12 orang, memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Mereka saling membantu dan merasakan kebersamaan dan bekerja karena bahagia mengerjakan pekerjaan mereka.” Pemilik bengkel bercerita sambil terus mengamati piston mobil BMW di tangan.

            “Wow, sangat sederhana ya om?” saya berkata kepada pemilik bengkel sambil termenung melihat sekeliling bengkel seluas 1.500 m2 dan bersih tersebut. “Siapa yang ingin berbisnis jasa perbaikan kendaraan?”

Susatyo Herlambang, S.E., M.M.

Dosen @STIEBBANK