Batik Mandela

Batik Mandela

7 March 2015

Dunia sedang berkabung. Nelson Mandela mangkat, 6 Desember lalu. Jenazahnya baru akan dimakamkan 15 Desember nanti. Disebut-sebut, pemakaman itu akan menjadi upacara perkabungan terakbar sepanjang masa. Seluruh dunia mengibarkan doa perpisahan untuk pejuang kemanusiaan anti apartheid ini.

Perhatian dunia sedang menuju pada sosoknya. Tak berlebih jika di kolom ini pun kita mengenangnya. Ada jasa besar yang diperankannya pada produk Indonesia, yakni kecintaannya pada batik. Tak hanya mengoleksi, namun memakai.

Sejak perkenalannya dengan batik pada Oktober 1990, sebagai hadiah dari pemerintah Indonesia atas kunjungannya, Mandela gemar mengenakan baju bermotif khas kekayaan Indonesia itu. Dalam berbagai kesempatan kunjungan kenegaraan, ia sangat percaya diri berbatik. Bahkan, ketika menemui Presiden Amerika Serikat George W Bush, di Gedung Putih, pada 17 Mei 2005, berhadapan dengan presiden negara adikuasa yang mengenakan setelan jas, Mandela menghangati diri dengan batik. Sungguh membanggakan. Pantas jika kemudian Mandela kita hormati sebagai Bapak Batik Dunia, menyanding mendiang Gus Dur yang juga amat bangga berbatik.

Saya menengarai, kecintaan Mandela pada batik bukan sekadar karena motifnya yang unik dan indah melainkan juga karena kandungan filosofisnya yang begitu mendalam. Sebagai pejuang kemanusiaan yang pernah 27 tahun dibenamkan ke dalam penjara, dan kemudian ketika bebas berlapang dada memaafkan musuh-musuh politiknya, ia menemukan keluhuran nilai hidup dalam batik. Batik adalah simbol kesabaran, ketekunan, dan kelembutan sekaligus. Untuk menyelesaikan pembuatan selembar batik butuh proses yang panjang dan lama.

Filosofi batik ada pada Mandela. Penjara di Pulau Roben, tak menyulutnya menjadi marah dan dendam. Ia justru mengasihi sipir yang mengawasinya, sebab ia tahu sipir itu pun korban kekuasaan rasialis. Kelak, dikisahkan, anak sipir itu ia bingkisi beasiswa. Penjara melatihnya mengasihi. Penjara membimbingnya untuk percaya bahwa perjuangan damainya bakal berhasil.

Olehnya, batik ditegaskan sebagai simbol peradaban yang menempatkan manusia sebagai subjek. Batik bukan sekadar sebuah produk bisnis yang diperjual-belikan secara transaksional melainkan produk budaya yang transformasional. Ia berharga justru karena menyimpan nilai kesederhanaan yang belakangan semakin mahal harganya. Terima kasih Mandela atas kesediaanmu menjadi saksi kebesaran warisan budaya Indonesia.

AA Kunto A

Dosen @STIEBBANK